Efek Psikologis Silaturrahim

Kata silaturrahim sendiri terdiri dari kata silah dan rahim. Kata silah berarti menyambung dan kata rahim berarti kasih sayang. Jadi secara sederhana silaturrahim dapat diartikan menyambung kasih sayang.

Tradisi silaturrahim di negeri ini biasanya terjadi secara besar-besaran pada momentum Idul Fitri sebagaimana dirayakan pada awal bulan Syawal ini. Momentum Idul Fitri bagi sebagian besar orang merupakan saat yang tepat untuk melakukan ritual tradisi silaturrahim. Meskipun tradisi silaturrahim sendiri dalam Islam tidak hanya dikenal pada momentum tertentu seperti Idul Fitri. Tetapi silaturrahim merupakan sebuah tradisi mulia yang juga harus dihidupkan di bulan lain selain bulan Syawal.

Fenomena tradisi silaturrahim ini sangat unik dan menarik untuk diamati. Dari perilaku yang terkecil seperti berkunjung ke rumah tetangga hingga fenomena mudik tahunan untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara di kampung halaman. Inilah fenomena unik dan menarik di negeri ini untuk dicermati baik dari aspek psikologis, ekonomi, budaya, sosiologis sampai pada tingkat kriminalitas.

 Efek psikologis
Apabila dicermati dari sudut pandang psikologi ada beberapa manfaat psikologis yang bisa ditimbulkan oleh tradisi silaturrahim itu sendiri. Di mana perilaku dan tradisi silaturrahim ini berdampak positif kepada para pelaku silaturrahim. Beberapa manfaat psikologis dari perilaku dan tradisi silaturrahim itu antara lain:

Pertama, timbulnya perasaan bahagia. Perilaku silaturrahim menghasilkan perasaan senang kepada kedua belah pihak, baik pihak yang berkunjung maupun pihak yang dikunjungi. Perasaan senang ini memang bersifat subyektif (berbeda-beda) pada setiap orang. Memang tidak bijak untuk digeneralisasi, namun pantas untuk dijadikan pembelajaran.

Jika ditanya mengapa muncul perasaan senang setelah proses silaturrahim, maka akan sulit sekali untuk mendefinisikan dan menjelaskannya secara gamblang. Namun itulah efek psikologis positif yang terjadi sebagai akibat perilaku silaturrahim. Mungkin kompleksitas tersebut tidak dapat dilihat dengan mata, namun terasa di dalam jiwa.

Kedua, kebermaknaan. Ketika melakukan proses silaturrahim maka ada sesuatu yang bermakna dan berarti yang bisa kita peroleh. Banyak makna dan pelajaran yang bisa didapat ketika mengunjungi kaum kerabat dan tetangga dalam tradisi silaturrahim. Sebut saja ketika berkunjung kepada orang-orang yang dituakan maka kita bisa menggali pelajaran bermakna dari mereka. Pelajaran tentang kebijaksanaan dan kesederhanaan nilai hidup, yang dapat menguatkan dimensi psikologis manusia dalam menjalani hidup yang terkesan kacau ini.

Pelajaran tersebut sebagai amunisi psikologis bagi kita dari mereka yang diperoleh melalui proses silaturrahim. Pelajaran ini juga menjadi begitu bermakna karena pelaku dan contoh hidup langsung yang memberikan pelajarannya kepada kita.

Ketiga, mengasah kecerdasan interpersonal. Momen silaturrahim merupakan saat yang tepat untuk mengasah kecerdasan dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Prilaku silaturrahim mungkin sangat baik bagi orang yang selama ini canggung untuk berinteraksi dengan orang lain. Tradisi silaturrahim bisa dijadikan media yang tepat bagi seseorang untuk membangun kecerdasan interpersonalnya. Di mana kemampuan interpersonal ini merupakan salah satu komponen psikologis yang diharapkan mampu melepaskan seseorang dari fobia sosial yang dirasakan oleh orang-orang tertentu.

Keempat, melatih kecerdasan interpersonal. Pertukaran informasi yang terjadi ketika proses shilaturrahim membuat seseorang mampu secara sadar membandingkan dirinya dengan orang lain. Dari proses perbandingan ini seseorang akan mampu untuk menyelami dirinya lebih dalam lagi. Tentang kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya saat ini bila dibandingkan dengan orang lain.

Kecerdasan interpersonal yang lebih akrab dikenal dengan kemampuan introspeksi diri menjadi terpicu dengan adanya tukar menukar informasi karena proses silaturrahim. Jadi jika ingin melihat psikologi diri lebih jauh dan lebih dalam maka silaturrahim bisa dijadikan sebagai salah satu media introspeksi diri.  

Kelima, dukungan psikososial dan proses katarsis. Dukungan psikososial secara sederhana berarti pemberian dukungan psikologis dalam bentuk interaksi sosial. Dalam proses silaturrahim besar kemungkinan dukungan psikososial ini terjadi. Ambil saja contoh sederhana seseorang yang meluapkan uneg-unegnya kepada orang lain mengenai kesukaran hidup yang dialaminya. Memang curhat uneg-uneg tidak serta merta menyelesaikan permasalahan. Akan tetapi paling tidak terjadi sebuah bentuk katarsis sederhana dari orang yang bercerita. Yaitu terjadinya pelepasan muatan emosi negatif pada seseorang sehingga bisa membuat kondisi psikologis orang tersebut menjadi nyaman.

 Efek sosiologis
Silaturrahim juga merupakan salah satu budaya canggih warisan para leluhur yang mampu menjadi alat perekat dan pemersatu bangsa ini. Dalam konteks sosiologis, silaturrahim mempunyai peran signifikan. Dia menjadi jembatan dahsyat yang mempertemukan dua orang atau kelompok yang berseteru. Bukankah mediasi dan islah itu juga diawali dengan proses silaturrahim?

Begitu indah dan dahsyatnya perilaku silaturrahim ini, sehingga bisa membuat seseorang sehat psikologis dan sosiologis. Maka kurang bijak jika meremehkan perilaku silaturrahim meskipun terkesan hanya sebuah proses berkunjung. Adalah bijak menjadikan silaturrahim sebagai sebuah tradisi dan budaya yang terus dihidupkan sepanjang kehidupan ini.

Kecanggihan teknologi komunikasi seperti Facebook, Twitter, Blog, SMS (pesan pendek melalui telepon genggam) dan media sosial lainnya, tidaklah cukup menggantikan nilai-nilai tradisi shilaturrahim. Silaturrahim tetap harus menjadi sebuah tradisi dan budaya tatap muka secara langsung. Di mana manusia sebagai makhluk sosial diposisikan sebagai raja nomor wahid dalam menunjukkan eksistensinya. Dari sana kemudian efek psikologis muncul yang memicu manusia sehat secara psikologis, sosiologis, fisik, dan bahkan mungkin materialnya.

* Slamet Sofyan, S.Psi, Dosen STI Psikologi Harapan Bangsa dan LP3I Banda Aceh. Email: slametsofyan@gmail.com

2 thoughts on “Efek Psikologis Silaturrahim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s