BERDIRINYA DESA SEKARAN ABAD 17

A. Pendahuluan

Secara administratif, Sekaran merupakan sebuah kelurahan yang  terletak di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sekaran terletak dibagian bagian selatan Kota Semarang yang didominasi oleh kawasanpertanian karena terletak di kawasan Semarang atas yang dekat denganKabupaten Semarang. Sekaran pada saat ini merupakan kelurahan yang  tengah berkembang dengan pesat. Keberadaan Sekaran pada saat inimenjadi sangat penting karena Sekaran merupakan pusat pengembanganpendidikan dengan dibangunnya Universitas Negeri Semarang di kawasan Sekaran.Kelurahan Sekaran Luas Wilayah memiliki luas 490.718 ha.yang  terbagi atas 26 Rukun Tetangga(RT) dan tujuh Rukun Warga (RW).Berdasarkan data pada tahun 2008, jumlah penduduk Sekaran adalah6.057 jiwa. Jumlah penduduk ini merupakan jumlah yang paling banyak diKecamatan Gunungpati. Sekaran terbagi atas empat dukuh, yakni Dukuh Sekaran, Dukuh Banaran, Dukuh Bantar Dowo, dan Dukuh Persen. Kelurahan Sekaran berbatasan dengan Kelurahan Sukorejo di sebelahutara. Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Srondol Kulon. Disebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Patemon, dan di sebelahbarat berbatasan dengan Kelurahan Kalisegoro. Perkembangan yang pesat ini telah menunjukkan tanda-tandaperkembangan menjadi kawasan kota dengan penduduk yang heterogen,dihuni secara padat oleh penduduk yang beraneka ragam dari segipekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup, ketersediaan berbagai fasilitasyang memudahkan masyarkat dalam memenuhi kebutuhan, dansebagainya. Perkembangan Sekaran menuju sifat-sifat kota disebabkanadanya Universitas Negeri Semarang yang didirikan di kawasan tersebutpada sekitar tahun 1990-an. Namun demikian, pada dasarnya sebelumberdirinya Universitas Negeri Semarang yang banyak memberikanperubahan dalam kehidupan masyarakat Sekaran, di kawasan tersebut telah berkembang masyarakat yang telah hidup selama ratusan tahunsecara turun temurun dan memiliki tradisi yang erat dipegang olehmasyarakat.Keberadaan Sekaran sebagai wilayah yang telah dihuni selamaratusan tahun kira-kira sejak abad ke-17 tidak lepas dari peran Kiai Sukosebagai tokoh yang berada di belakang munculnya Sekaran. Kiai Sukomerupakan sosok yang berjasa dalam membuka kawasan untuk dijadikanpermukiman masyarakat sekaligus sebagai tempat bercocok tanam. Iabersama istrinya merupakan tokoh yang dianggap oleh warga Sekaransebagai pendiri sekaligus lurah pertama di Sekaran. Keberadaannya olehmasyarakat sekaran pada saat ini dikeramatkan. Hal ini tampak dariadanya pembuatan pagar khusus oleh masyarakat di pemakaman KiaiSuko dan istrinya. Ini merupakan satu bentuk penghormatan masyarakat  Sekaran terhadap leluhurnya sekaligus upaya untuk mempertahankan tradisi lokal yang saat ini tengah tergerus oleh perkembangan zaman.Secara ringkas tulisan ini berupaya untuk mengangkat sosok dariKiai Suko sebagai pendiri Sekaran sekaligus melakukan telaah kritis tentang perannya dalam proses pendirian Sekaran.

B. Jalan Hidup Kiai Suko
Tidak ada sumber yang pasti yang menjelaskan tentang awalkehidupan Kiai Suko sebagai pendiri Desa Sekaran. Hal ini karena tidakada peninggalan tertulis tentang pendirian Desa Sekaran, sehinggasumber yang digunakan untuk melakukan rekonstruksi sosok Kiai Sukohanya berasal dari tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakatSekaran. Berdasarkan penuturan dari Moh. Sakur selaku sesepuh desa,Kiai Suko hidup sekitar abad ke-17. Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwaKiai Sekaran hidup setelah sejarah Semarang.Sejarah berdirinya Semarang sendiri bermula pada akhir abad ke-15 M ketika ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenalsebagai Pangeran Made Pandan, untuk menyebarkan agama Islam dariperbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, darisela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang atau jarang,sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat,dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinandaerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II atau Sunan Bayat. Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakinmenunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarikperhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatandaerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatandengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasidengan Sunan Kalijaga. Dengan demikian, Kiai Suko melakukanpembabatan di kawasan Kadipaten Semarang, karena pada saat itu telahberdiri Kadipaten Semarang.Kiai Suko sebelum membabat daerah yang kemudian disebutSekaran adalah seorang punggawa dari Surakarta. Namun demikian,ketika ditelusuri lebih mendalam tidak diketahui apa jabatan yang diampuoleh Kiai Suko dalam struktur birokrasi. Permasalahan ini muncul karenasampai sekarang belum ditemukan sumber tertulis tentang sejarahberdirinya Desa Sekaran. Cerita yang berkembang pada saat ini hanyaberasal dari tradisi lisan yang turun temurun diwariskan kepadamasyarakat di desa sekaran tentang bagaimana peran Kiai Suko danproses pembabatan hutan yang kemudian menjadi kawasan yang disebutdengan Sekaran.Kiai Suko kemudian mendapatkan tugas untuk membuka lahanbaru di sebuah kawasan Semarang bagian selatan. Bersama isterinyayang bernama Nyai Tanjung ia kemudian memimpin pembukaan sebuahkawasan permukiman dan daerah pertanian baru di selatan Semarang.
 Setelah berhasil dalam mendapatkan lahan perukiman dan pertanianbaru ia kemudian bertindak sebagai bêkêl. Secara tidak langsung ia jugaberperan sebagai pemimpin desa. Sebagai seorang bêkêl, Kiai Sukobertindak pula sebagai kepala desa atau kepala dukuh yang bertanggung  jawab pula dalam bidang ketertiban dan keamanan desa. Sebagai bêkêl ia membawahi sekitar 100 cacah. Diketahuinya jumlah cacah yang dibawahiadalah dari jabatannya sebagai penatus yang artinya membawahi sekitarseratus cacah.Sebagai pembuka lahan, Kiai Suko memilki tugas untuk membagi-bagi tanah desa untuk calon penggarap. Ia kemudian disebut kepala desa.Ia merupakan seorang yang bertugas sebagai penebas pajak. Sedikit demisedikit Kiai Suko sebagai bêkêl diberi kekuasaan sebagai kepala desa,sehingga ia kemudian peranannya berubah dari penebas pajak menjadi pemegang kekuasaan desa atau menjadi lurah, sebagai pemimpin resmisekaligus birokrat desa yang menghubungkan antara rakyat denganbirokrasi di atasnya.Lebih lanjut lagi Moh. Sakur menjelaskan bahwa setelah menjabat sebagai bêkêl, Kiai Suko kemudian menjadi seorang lurah. Ketika iamenjadi lurah, ia telah membawahi sekitar 1000 cacah. Hal ini karena iamemiliki jabatan sebagai penewu, yang artinya sebagai pengelola seribuorang pekerja. Ia merupakan lurah pertama di Sekaran. Dengandiangkatnya Kiai Suko sebagai lurah di Sekaran, berarti Sekaran telahberubah status menjadi bagian yang resmi dalam Kadipaten Semarang.Ini artinya telah ada pengakuan dari kadipaten tentang keberadaan Sekaran sebagai permukiman dan daerah pertanian baru. Perkembangansekaran menjadi sebuah desa yang diakui dalam struktur birokrasi dikadipaten Semarang disebabkan oleh perkembangan penduduk yang semakin banyak pada saat itu. Dengan jumlah penduduk yang semakinbertambah, maka sekaran menjadi kawasan yang banyak dihuni danmemiliki banyak cacah, sehingga terjadilah perubahan status menajdidesa dan terjadi pengangakatan Kiai Suko menjadi seorang lurah. KiaiSuko sampai meninggalnya masih menjabat sebagai lurah dandimakamkan di pemakaman Sitanjung di timur laut dusun Sekaran.Setelah meninggal oleh masyarakat, Kiai Suko kemudian disebut sebagaiKiai Sekar.Nama makam si tanjung tersebut berasal dari nama isteri Kiai Sukoyang bernama Nyai Tanjung. Sampai sekarang keberadaan makam tersebut masih ada dan dipergunakan oleh masyarakat untukmenguburkan anggota masyarakat Sekaran yang meninggal. Sampaisekarang, ada dua jalan menuju makam, yang satu dinamai jalanSitanjung, yang satu dinamai jalan Kiai Sekar. Dinamainya jalan tersebutoleh masyarakat merupakan sebuah penghirmatan atas peran serta dan jasa dari kedua tokoh yang membabat alas sehingga muncul daerah yang disebut Sekaran.Dari penjelasan yang diutarakan oleh Moh. Sukur penulis mencobamelakukan rekonstruksi tentang kapan pastinya Kiai Suko hidup danmemimpin sekaran. Oleh sesepuh desa, dijelaskan bahwa Kiai Sekarhidup pada sekitar abad ke-17. Ia adalah seorang punggawa dari Kraton Surakarta. Ia juga adalah seorang bêkêl. Dari keterangan tersebut, KiaiSuko diperkirakan hidup pada masa Mataram. Hal ini karena pada abadke-17 kawasan Semarang masih berada di bawah kekuasaan Mataram.Dari data tersebut Kiai Suto diperkirakan memimpin Sekaransetelah terjadi peristiwa proses pemindahan kekuasaan dari Plered keKartasura. Pemindahan ini dilakukan oleh Amangkurat II setelah tahun1677. Dengan demikian Kiai Suko memimpin Sekaran setelah tahun1677 sampai sekitar tahun 1705. Batas tahun 1677 adalah ketikakekuasaan telah berpindah di Kartasura dan pada tahun 1705Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagaibagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura.Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudianPemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian perlu ditegaskan bahwaKiai Suko pada dasarnya tidak menjadi punggawa kraton secara langsung, tetapi dimungkinkan sebagai punggawa di Kadipaten Semarang, yang pada saat itu merupakan bagian dari kekuasaan kraton. Kemudian kratonyang disebut oleh Moh. Sakur mungkin akan lebih cocok ketika disebutsebagai Kraton Kartasura daripada Kraton Surakarta. Hal ini karenaKraton Surakarta baru ada sekitar pertengahan abad ke-18 akibat GegerPecinan, sehingga hal ini tidak cocok dengan masa hidup dari Kiai Suko.Dilihat dari masa hidupnya, Kiai Suko hidup pada masapemerintahan Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674) atau pada masapemerintahan Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701). Kedua adipati tersebut diperkirakan menjadi atasan dari Kiai Suko sebagai lurahSekaran.

C. Kiai Suko dan Berdirinya Sekaran
Sebelum dibuka oleh Kiai Suko, kawasan Sekaran masih berupahutan. Menurut penuturan dari Moh. Sakur, sebelum adanya sekrnadaerah tersebut masih wang-wung atau kawasan belantara dan daerahyang banyak ditumbuhi semak belukar dan alang-alang.Munculnya Sekaran erat kaitannya dengan perlombaan perolehanlahan. Oleh Moh. Sakur diceritakan bahwa sebelum ada upaya pencariandaerah permukiman baru terjadi beberapa kerusuhan yang menyebabkanmasyarakat terpaksa mencari kawasan baru yang lebih aman. Kiai Sukoberpandangan bahwa untuk mendapatkan lahan yang luas perlu adanyapembagian tugas. Maka Kiai Suko mendapatkan bagian untuk membabathutan dan Nyai Tanjung, istrinya, bertugas membakar hasil babatan.Dari proses pembakaran hasil babatan hutan inilah nama sekaranditemukan, yakni berasal dari kata
bakaran
yang berarti hasilpembakaran. Lambat laun daerah ini disebut sebagai Sekaran.Sebagai daerah permukiman dan pertanian yang baru, daerah inikemudian berkembang menjadi desa dengan Kiai Suko yang menjabatsebagai lurah yang pertama. Dengan demikian, peran Kiai Suko sangatbesar dalam proses perkembangan Desa Sekaran. Hal ini karena dialahyang pertama-tama melakukan upaya pembabatan hutan untuk dijadikankawasan permukiman. Kemudian setelah penduduk bertambah banyak, ia diangkat menjadi lurah. Ini menandakan bahwa ia bertindak sebagai tokoh birokrat yang memiliki kewenangan administratif dalam mengatur tatanan sosial masyarakat di Sekaran.
D. Penutup
Sekaran pada saat ini telah berkembang sebagai kawasan permukiman yang telah banyak mengalami kemajuan, bahkan saat ini telah menunjukkan ciri-ciri sebuah kota dengan beragamnya penduduk,adanya fasilitas yang bermacam-macam dan sebagai salah satu pusatpendidikan di Jawa Tengah. Keberadaan Sekaran sebagai sebuahkawasan tidak lepas dari peran serta para tokoh yang jauh selamaratusan tahun yang lalu mengembangkan sekaran sebagai cikal bakalpermukiman masyarakat.Satu tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan desasekaran adalah Kiai Suko yang oleh masyarakat kemudian lebih dikenalsebagai Kiai Sekar. Kiai Suko diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Amangkurat II. Ia mulai membabat hutan dan kemudian memimpin daerah Sekaran setelah tahun 1677 sampai sekitar tahun1705 atau pada masa pemerintahan Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674) atau pada masa pemerintahan Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701) sebagai adipati di Semarang. Kiai Suko merupakan tokoh yang pertama kali membabat hutan dikawasan Semarang bagian selatan untuk dijadikan sebagai permukiman baru yang disebut dengan Sekaran. Ia adalah tokoh yang berperan sebagai pemimpin di desa Sekaran sampai kemudian lambat laundiangkat sebagai seorang lurah. Oleh masarakat di sekaran sampai sekarang keberadaan Kiai Suko atau Kiai Sekar masih sangat dihormati. Hal ini terlihat dari makamnya yang masih terawat, bahkan dibuatkan bangunan khusus agar keberadaan makamnya tetap lestari, sehingga masih dapat diingat oleh generasi-generasi penerus di Sekaran untuk selalu mengenang jasa dan peran serta yang amat besar dari Kiai Sukodalam mendirikan Sekaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s