PENDIDIKAN ANAK KEBUTUHAN KHUSUS

Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. 
  1. Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) dalam batasan normal
  2. Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.
  3. Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.
Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia disediakan melalui tiga macam lembaga pendidikan yaitu, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama sehingga ada SLB untuk anak dengan hambatan penglihatan (Tunanetra), SLB untuk anak dengan hambatan pendengaran (Tunarungu), SLB untuk anak dengan hambatan berpikir/kecerdasan (Tunagrahita), SLB untuk anak dengan hambatan (fisik dan motorik (Tunadaksa), SLB untuk anak dengan hambatan emosi dan perilaku (Tunalaras), dan SLB untuk anak dengan hambatan majemuk (Tunaganda). Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis anak berkebutuhan khusus. Sementara itu pendidikan terpadu adalah sekolah reguler yang juga menampung anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama. Namun selama ini baru sedikit sekolah yang mau menampung anak berkebutuhan khusus. Sebagian besar yang lain masih menolak dan keberatan menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah regular (umum).
Disini, saya akan membahas salah satu contoh disability, contohnya adalah disleksia (learning disability). Disleksia adalah penurunan kemampuan otak untuk menerjemahkan gambar tertulis yang diterima dari mata ke dalam bahasa yang bermakna dan merupakan ketidakmampuan belajar yang paling umum terjadi pada anak-anak.  Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam mengode simbol. Terdapat dua macam disleksia, yaitu :
  1. developmental dyslexia : bawaan lahir karena faktor genetis atau keturunan. Penyandang disleksia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan. Tetapi, anak-anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan normal atau bahkan diatas rata-rata.
  2. acquired dyslexia itu awalnya individu normal, tetapi menjelang dewasa mengalami cedera otak sebelah kiri dan bisa menyebabkannya menjadi disleksia
Beberapa masalah yang dialami oleh penyandang disleksia :
  1. Masalah fonologi : berhubungan dengan huruf dan bunyi. Misalkan, mereka sulit membedakan “paku” dan “palu”. Hal ini bukan disebabkan oleh masalah pendengaran melainkan berkaitan dengan proses pengolahan/input dalam otak.
  2. Mengingat perkataan
  3. Penyusunan yang sistematis atau berurutan
  4. masalah dengan ingatan jangka pendek
  5. Pemahaman sintaks : kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang memiliki tata bahasa yang berbeda. Misal, dalam bahasa indonesia : tas merah –> red bag (bahasa inggris)
Sekolah inklusi adalah sekolah yang menerapkan beberapa kurikulum yang disesuaikan dengan keadaan anak. Sehingga menurut saya, seorang anak penyandang disleksia seperti yang telah dijelaskan diatas memiliki kecerdasan normal ataupun mungkin diatas rata-rata, sehingga jika mereka dimasukkan ke SLB mereka akan frustasi dan keadaan itu bukannya memperbaik keadaan melainkan sebaliknya. Jika anak tersebut di masukkan ke sekolah biasa dengan sistem inklusi, mereka dapat berinteraksi dengan anak-anak normal lainnya, mereka belajar menyesuaikan diri dan setelah lulus sekolah nantinya mereka telah siap bekerja dalam ruang lingkup sosial. Dengan berinteraksi dengan anak normal lainnya, hal ini tentu saja dapat memotivasi diri untuk menjadi lebih baik dan dapat menjadi seperti anak-anak lainnya, walaupun ada keterbatasan dalam diri mereka itu. Mereka hanya membutuhkan waktu lebih dengan kemampuan normal, misalnya jika anak normal memerlukan waktu setengah jam untuk menyelesaikan tugas, anak disleksia memerlukan waktu lebih banyak mungkin 45 menit sampai 1 jam untuk menyelesaikannya. Tetapi, keahlian anak disleksia tetap ada, mereka juga memiliki bakat yang jika diasah, juga dapat menghasilkan anak yang luar biasa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s