ILMU PERHIASAN TAK TERNILAI BAGI MUSLIMAH

           Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri cina”.

Kadang-kadang kita lupa untuk apa sebenarnya kita menuntut ilmu, dan kita juga lupa      apa hukumnya menuntut ilmu dalam agama Islam. Insya Allah artikel ini bisa   mengingatkan kembali dan akan menjadi patokan untuk kita melanjutkan perjalanan kita  dalam menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat….amin ya rabbal alamin

  1.   HUKUM MENUNTUT ILMU.

Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan.Menuntut ilmu artinya
berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad saw :
“Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari)

Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahuisegala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad saw. bersabda :
“Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”. (HR.
Bukhari dan Muslim)

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt. Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat yang menghasilkan natijah, yakni ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’. Hukum wajibnya perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib ‘ain dan adakalnya wajib kifayah.

Ilmu yang wajib ‘ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui untuk meluruskan ‘aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin ; dan yang perlu di ketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang
difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Disamping itu perlu dipelajari ilmu akhlak untuk mengetahui adab sopan santun yang perlu kita laksanakan dan tingkah laku yang harus kita tinggalkan. Disamping itu harus pula mengetahui kepandaian dan keterampilan yang menjadi tonggak hidupnya.
Adapun pekerjaan-pekerjaan yang tidak dikerjakan sehari-hari maka di wajibkan mempelajarinya kalau di kehendaki akan melaksanakannya, seperti seseorang yang hendak memasuki gapura pernikahan, seperti syarat-syarat dan rukun-rukunnya dan segala yang di haramkan dan dihalalkan dalam menggauli istrinya.
Sedang ilmu yang wajib kifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya.

  2.  MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAT.
Dilihat dari segi ibadat, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai   dan pahalanya, sebagaimana sabda  Nabi Muhammad saw.

“Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun”.

Dalam hadist lain dinyatakan :

“Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”.

Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadat?. Karena amal ibadat yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam
hal ini menyatakan :
“Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.

  3. DERAJAT ORANG YANG BERILMU.
Kalau kita telah mempelajari dan memiliki ilmu-ilmu itu, apakah kewajiban kita yang harus ditunaikan?.
Kewajiban yang harus ditunaikan ialah mengamalkan segala ilmu itu, sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang lain.
Agar bermanfaat bagi orang lain hendaklah ilmu-ilmu itu kita ajarkan kepada mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu ialah memberi penerangan kepada mereka dengan uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal di hadapan mereka, atau dengan jalan menyusun dan mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya.

Mengajarkan ilmu kecuali memang diperintah oleh agama, sungguh tidak disangkal lagi, bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang seutama-utamanya. Nabi diutus ke dunia inipun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya :
“Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar”.(HR. Baihaqi)

Sekiranya Allah tidak membangkitkan Rasul untuk menjadi guru manusia, guru dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan sepanjang masa. Walaupun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan berbagai ilmu
pengetahuan, namun masih ada juga hal-hal yang tidak dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang diluar akal manusia. Untuk itulah Rasul Allah di bangkitkan di dunia ini.
Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia/masyarakat secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka di perlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi para guru dan ulama yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda Nabi saw.
“Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka”.(HR Ahmad)

Marilah kita menuntut ilmu pengetahuan, sesempat mungkin dengan tidak ada hentinya tanpa absen sampai ke liang kubur, dengan ikhlas dan tekad mengamalkan dan menyumbangkannya kepada masyarakat, agar kita semua dapat mengenyam hasil dan buahnya.

Saya sering kali jengkel dan tidak rela ketika melihat seorang wanita ataupun orang tua yang ketika mempunyai anak seorang perempuan, cara berfikirnya pendek (Nikah, Masak, Manak, kemudian hidup dengan suami, dan selesailah kehidupan wanita), tidak peduli dengan dunia keilmuan, terlebih ketika perempuan tadi mempunyai berbagai kecerdasan dan kemampuan yang mumpuni untuk di kembangkan. Cara berfikir instan inilah yang berkembang di dunia islam rata-rata. Sehingga menimbulkan kesan bahwa wanita itu tidak berhak menyentuh dunia keilmuwan terlebih keilmuan islam. Dapat kita lihat dari zaman dahulu sampai sekarang dunia keilmuan islam rata-rata di pegang oleh kalangan lelaki. Mulai dari ahli nahwu, ahli fiqih, ahli ushul fiqih, dan Ahli Tafsir.

Pernah suatu ketika saya melontarkan pertanyaan kepada seorang teman, tentang kenapa wanita jarang sekali yang menjadi tokoh islam, pada hal dalam islam perintah menuntut ilmu itu jelas sekali bukan hanya terbatas pada seorang laki-laki, ada ga sih tokoh islam yang wanita yang mejadi tokoh ulama yang berpengaruh dalam sejarah islam? dia menyebutkan nama binti syati’, seorang Guru besar, seorang profesor. seorang Mufassir, seorang penulis, seorang yang sejarah mencatatnya sebagai orang yang berpengaruh di dunia islam.

berikut saya tuliskan sedikit biografi beliau yang di ambil dari berbagai sumber, semoga saja dapat di jadikan sebagai motivasi dan panutan, dan nantinya banyak tokoh wanita islam yang dapat di banggakan dan di kenang oleh sejarah.

Beliau Aisyah Muhammad Ali Abdul Rahman, yang dikenal sebagai Binti Syati’ (1912-1998) adalah seorang pemikir dan penulis Mesir, dan seorang profesor serta peneliti di berbagai Universitas, wanita pertama yang menyampaikan muhadloroh di kuliah Al-Azhar Al-Sharif, Penulis yang berpengaruh di mesir, terutama di majalah Al-Ahram, serta wanita Arab pertama yang memenangkan Nobel dari Raja Faisal dalam Sastra arab dan Studi Islam

Terlahir di kota Dimyat sebelah utara Delta di negeri Mesir pada pertengahan November tahun 1912, ayahnya adalah seorang guru institut agama di dimyat, dan kakek dari ibunya adalah seorang syaikhul Al-Azhar, dididik pertama untuk menghafal Al-Quran dan kemudian memasuki usia tujuh tahun, ia ingin sekali masuk sekolah, tetapi orang tuanya menolak, karena kondisi adat pada waktu itu yang melarang wanita untuk belajar di luar rumah akhirnya ia menerima pendidikan di rumah dari orang tuanya. tetapi meski seperti itu, ia tidak kalah prestasinya dari kawan-kawannya, terbukti ia selalu berprestasi tiap kali ujian.

Menikah dengan dosennya sendiri seorang profesor universitas Amin Khuli dosen sastra arab dan intelektual dan pemikir terkenal mesir pada waktu itu, dengannya beliau melahirkan tiga putra, dengan pernikahannya ini tidak mensurutkan semangat beliau untuk berkarir di dunia akademisi, bahkan karir ilmiahnya semakin hari terus menanjak, terbukti tahun 1950 beliau secara resmi menerima gelar Doktor, yang mana Munaqisynya pada waktu itu adalah Dr. Taha Hussein.

Binti Syati’, adalah pioner muslimah yang benar-benar merasakan kebebasan sejati yang diberikan oleh islam, bermula dari gadis kecil yang terlahir di delta nil lalu menjadi seorang profesor tafsir, dosen s2 di universitas qorowain di maroko universitas tertua sunni, profesor dan ketua dekan bahasa Arab dan sastra di Universitas Ain Shams di Mesir, dan dosen terbang di Universitas Omdurman dan Khartoum, Sudan tahun 1967, Aljazair pada tahun 1968,dan Beirut,, 1972 dan Universitas UEA, 1981 dan Sekolah Tinggi Pendidikan bagi Anak Perempuan di Riyadh 1975-1983 m.

Karir akademisinya semakin hari semakin menanjak, hingga akhirnya beliau menjadi profesor dosen tafsir dan studi pasca sarjana di universitas qorowain (Universitas bergengsi pada waktu itu) di maroko, dimana beliau sebagai pengajar tetap selama 20 tahun. Beliau memberikan kontribusi terhadap kelahiran generasi ulama di kemudian hari, dan pemikir dari sembilan negara Arab yang sempat beliau ajar, pemikiran pemikiran beliau telah mengilhami para mufakkir, dan ulama seantero dunia, terlebih ketenaran beliau sebagai dosen di universitas-universitas bergengsi waktu waktu itu. dan berkecimpung lama dalam dunia tulis menulis, yang mana beliau meulis di majalah النهضة النسائية ketika mulai umur 18 tahun

Beliau terkenal tegas sekali ketika berbicara Islam, hal ini dapat dari lihat dari sikapnya kritisnya terhadap tafsir kontemporer yang menyeleweng jauh dari ajaran yang murni. beliau selalu menafsiri teks teks islam dengan tafsiran yang sesuai dengan mantiq islam, dan selalu mengkritisi tafsir yang menyeleweng (klo dalam istilah sekarang tafsir liberal), ketegasan beliau ini juga dapat kita dapati di buku beliau tentang aliran baha’iyyah علاقة البهائية بالصهيونية العالمية.

selain sibuk mengajar beliau juga aktif menulis buku diantara karyanya adalah: التفسير البياني للقرآن الكريم, القرآن وقضايا الإنسان, Biografi tokoh wanita yang tinggal bersama Nabi, Buku-buku tahqiqan beliau. danberbagai karya beliau yang lain, dalam menulis beliau sering menggunakan Nama samaran, Binti Syati’ (Gadis Tepi Pantai), karena beliau menghabisakan masa kecilnya di tepi pantai dimyat, hingga akhirnya beliau terkenal dengan sebutan بنت شاطئ

Dunia islam sekarang ini membutuhkan seorang seperi binti syathi’, seorang feminis sejati, dunia butuh seorang wanita untuk membantah isu feminis yang sering kali menyimpang dari ajaran islam saat ini, kalau tidak wanita siapa lagi nantinya yang akan membahas isu-isu wanita. bukankah pada zaman Rasulullah dahulu sayyidah aisya dan istri-istri Rasulullah adalah rujukan dari kalangan wanita? Marilah saudari-saudariku, semangat dalam belajar, jangan berfikir secara pendek, pikirkanlah bagaimana kita mengukir sejarah. ambillah hak-hak kalian yang telah di berikan oleh

Ummu Abdillah bintu MursyidSeorang yg mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah diatur dalam syariat Islam.Seorang yg sukses bukanlah orang yg hidup dgn bersemboyan ‘semau gue’ dgn mengikuti hawa nafsunya tapi orang yg sukses adl orang yg mengambil Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dgn pemahaman As Salafus Shalih sebagai pengikat aturan hidupnya. Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan tiap Muslim dan Muslimah yg baligh dan berakal utk menuntut ilmu.Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Menuntut ilmu wajib bagi tiap Muslim.” {HR. Ahmad dgn sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri yg membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini}Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yg wajib dituntut di sini adl ilmu yg dapat menegakkan agama seseorang seperti dalam perkara shalatnya puasanya dan semisalnya. Dan segala sesuatu yg wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya seperti pokok-pokok keimanan syariat Islam perkara-perkara haram yg harus dijauhi perkara muamalah dan segala yg dapat menyempurnakan kewajibannya.Sebagai hamba Allah seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yg meliputi pengetahuan terhadap nama-nama sifat-sifat dan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yg shahih. Selain itu ia harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersendiri dalam Mencipta Mengatur Memiliki dan Memberi Rezeki.

Ia pun wajib menunaikan hak-hak Allah yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dgn sesuatupun sebagaimana tujuan penciptaannya. Allah berfirman :“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan utk beribadah kepada-Ku.” {Adz Dzariyat : 56}Seseorang tidak akan berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dgn menuntut ilmu Dien .Di samping mengenal Allah seorang Muslimah juga wajib mengenal Nabi-nya yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam krn beliau merupakan perantara antara Allah dgn manusia dalam penyampaian risalah-Nya. Sesuai dgn makna persaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adl hamba dan Rasul-Nya maka ia wajib mentaati segala yg beliau perintahkan membenarkan segala yg beliau khabarkan menjauhi apa yg beliau larang dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dgn apa yg beliau syariatkan. Hal ini sesuai dgn perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala :“Apa yg diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yg dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” Ayat ini merupakan kaidah umum yg agung dan jelas tentang wajibnya seluruh kaum Muslimin mengambil sunnah yg telah tetap dan hadits-hadits shahih dalam aqidah ibadah muamalah adab akhlak seluruhnya. Hal ini tidak akan diketahui kecuali dgn menuntut ilmu terlebih dahulu.Selain mengenal Allah dan Rasul-Nya seorang Muslimah juga wajib mengenal agama Islam sebagai agama yg dianutnya dgn memperhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahihah sehingga ia memiliki pendirian kokoh tidak mudah terombang-ambing. Dan agar ia berada di atas cahaya bukti dan kejelasan dari agamanya.Inilah masalah pertama yg disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bukunya Al Ushuluts Tsalatsah yaitu berilmu sebelum beramal dan berdakwah.Seorang Muslimah juga wajib membekali dirinya dgn ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dgn tuntunan syariat.Sebagai isteri seorang Muslimah dituntut agar menjadi isteri yg shalihah sehingga ia dapat menjadi perhiasan dunia yg paling baik bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suaminya. Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Dunia adl perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adl wanita yg shalihah.” {HR.

Muslim}Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat wanita shalihah :“… maka wanita shalihah ialah yg taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh krn itu Allah telah memelihara mereka.” Maksud ayat ini diterangkan oleh Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan Asy Syaikh Salim Al Hilali rahimahumullah bahwa wanita yg shalihah adl yg menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentaati-Nya mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan menunaikan hak-hak suaminya dgn mentaatinya dan menghormatinya serta menjaga harta suami anak-anak mereka dan kehormatannya tatkala suaminya tidak ada.Untuk menjadi wanita shalihah yg seperti ini seorang Muslimah membutuhkan ilmu.Sebagai seorang ibu ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi anak- anak yg shalih dan shalihah. Di bawah kepemimpinan suami isteri adl penjaga rumah tangga suami dan anak-anaknya sebagaimana dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda :“Laki-laki adl pemimpin atas keluarganya wanita adl pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya maka tiap kalian adl pemimpin akan ditanya tentang yg dipimpinnya.” Hasil didikan seorang ibu terhadap anak-anaknya inilah yg termasuk perkara yg akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah Muslimah harus menuntut ilmu syar’i sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati krn keshalihan mereka.Di tempat lain bila seorang Muslimah belum menikah maka sebagai anak ia wajib taat pada orang tuanya selama tidak memerintahkan kepada maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya… .” {Al Ankabut : 8}Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :“Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah durhaka pada orang tua membunuh jiwa {tanpa hak} dan sumpah palsu.” Untuk dapat berbuat baik dan menunaikan hak-hak orang tua dgn benar seorang Muslimah tidak bisa lepas dari ilmu.Seluruh kewajiban ini harus dapat ditunaikan dgn dasar ilmu. Karena jika tidak akan terjadi berbagai kesalahan dan kerusakan. Maka tidak heran bila para Muslimah yg bodoh terhadap agamanya melakukan berbagai praktek kesyirikan dan kebid’ahan.Akibat kebodohannya pula banyak Muslimah yg durhaka pada suami atau orang tuanya. Atau terjadi berbagai kesalahan dalam mendidik anak sehingga muncullah generasi yg berakhlak buruk bahkan bisa jadi durhaka pada orang tua yg telah merawat dan membesarkannya.

Karena kebodohannya pula banyak Muslimah yg tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya sehingga ia menjadi fitnah dan terjerumus dalam perzinahan dan berbagai kemaksiatan. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari yg demikian itu.Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma berkata telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :“Aku berdiri di muka pintu Syurga maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adl orang- orang miskin sedang orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Dan ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka. Dan ketika aku berdiri di dekat pintu neraka maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adl para wanita.” Hanya dgn menuntut ilmu seorang Muslimah akan mengetahui jalan yg selamat. Kaum Muslimah masa kini akan menjadi baik bila mereka mau mencontoh para Muslimah generasi terdahulu mereka sangat memperhatikan dan bersemangat dalam menuntut ilmu.Dalam sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata : “Seorang wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata :‘Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah membawa haditsmu maka jadikanlah bagi kami satu harimu yg kami datang pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yg telah diajarkan Allah kepadamu.’ Maka beliau bersabda : ‘Berkumpullah pada hari ini dan ini di tempat ini.’ Maka mereka pun berkumpul lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendatangi mereka dan mengajarkan apa yg telah diajarkan Allah kepada beliau.” {HR. Bukhari dan Muslim}Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun sangat bersemangat mengajar para shahabiyah sampai-sampai beliau menyuruh wanita yg haid baligh dan merdeka utk menyaksikan kumpulan ilmu dan kebaikan. Bahkan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memutuskan udzur wanita yg tidak memiliki hijab sebagaimana yg disebutkan dalam Shahihain dari Ummu ‘Athiyah Al Anshariyah radhiallahu ‘anha ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyuruh kami mengeluarkan wanita yg merdeka yg haid dan yg dipingit utk keluar pada hari Iedul Fithri dan Adha. Adapun yg haid memisahkan diri dari tempat shalat dan mereka pun menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah! Salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau bersabda : ’Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.’ “Oleh krn itulah kita dapatkan dalam sejarah Islam di antara mereka ada yg menjadi ahli fiqih ahli tafsir sastrawati dan ahli dalam seluruh bidang ilmu dan bahasa. Sebagai contoh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yg dididik dalam madrasah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga beliau menjadi wanita yg berilmu dan shalihah.Imam Az Zuhri rahimahullah berkata : ”Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dan dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita maka ilmu ‘Aisyah lbh afdhal.”Bahkan ‘Aisyah merupakan guru dari beberapa shahabat ia menjadi bahan rujukan mereka dalam masalah hadits sunnah dan fiqih. Urwah bin Az Zubair berkata : “Aku tidak melihat orang yang lbh mengetahui ilmu fiqih pengobatan dan syi’ir ketimbang ‘Aisyah.”Para wanita dari kalangan tabi’in juga berdatangan ke rumah ‘Aisyah utk belajar di antara muridnya adl Amrah bintu ‘Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah. Ibnu Hibban berkata : “Dia adalah orang yg paling mengetahui hadits-haditsnya ‘Aisyah.”Di antara deretan nama wanita generasi terdahulu yg cemerlang dalam ilmu adl Hafshah bintu Sirin yg masyhur dgn ibadahnya kefaqihannya bacaan Al Qur’annya dan hadits- haditsnya. Begitu pula Ummu Darda Ash Shuqra Hujaimah ia seorang yg faqih ’alimah banyak meriwayatkan hadits cerdas masyhur dgn keilmuan amalan dan zuhudnya.Demikianlah –wahai saudariku Muslimah– mereka adl contoh terbaik bagi kita dan telah terbukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yg berilmu sebagaimana firman-Nya :“Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.” {Al Mujadilah : 11}Semoga Allah memudahkan jalan bagi kita utk menuntut ilmu dan memberikan ilmu yg bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s