HAKEKAT PENDIDIKAN ORANG DEWASA

  1. A.    Hakekat Andragogi       

Andragogi berasal dari bahasa Yunani andros artinya orang dewasa, dan agogus artinya memimpin. Istilah lain yang kerapkali dipakai sebagai perbandingan adalah pedagogi yang ditarik dan kata paid artinya anak dan agogus artinya memimpin. Maka secara harfiah pedagogi berarti seni dan pengetahuan megajar anak. Karena itu, pedagogi berarti seni atau pengetahuan mengajar anak, maka apabila memakai istilah pedagogik untuk orang dewasa jelas kurang tepat, karena mengandung makna yang bertentangan.
Sementara itu, menurut (Kartini Kartono, 1997), bahwa pedagogi (lebih baik disebut sebagai andragogi, yaitu ilmu menuntun atau mendidik manusia; anerandros= manusia, agogus= menuntun mendidik) adalah ilmu yang membentuk manusia; yaitu membentuk kepribadian seutuhnya, agar ia mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya. Pada banyak praktek, mengajar orang dewasa dilakukan sama saja dengan mengajar anak. Prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan orang dewasa. Hampir semua yang diketahui mengenai belajar ditarik dari penelitian belajar yang terkait dengan anak. Begitu juga mengenai mengajar, diatrik dari pengalaman mengajar anak-anak misalnya dalam kondisi wajib hadir dan semua teori mengenai transaksi guru dan siswa didasarkan pada suatu definisi pendidikan sebagai proses pemindahan kebudayaan. Namun, orang dewasa sebagai pribadi yang sudah matang mempunyai kebutuhan dalam hal menetapkan daerah belajar di sekitar problem hidupnya.

Kalau ditarik dari pengertian pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai seni dan pengetahuan mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang dapat mengarahkan diri sendiri, maka dalam andragogi yang lebih penting adalah kegiatan belajar dari peserta didik bukan kegiatan mengajar guru. Oleh karena itu, dalam memberikan definisi andragogi lebih cenderung diartikan sebagai seni dan pengetahuan membelajarkan orang dewasa.

Andragogi ini muncul disebabkan karena pedagogi tidak menjamin atau mencakup seluruh kebutuhan akan kepuasan dari seseorang, sebab dengan semakin kompleksnya kehidupan ini akan menuntut banyak kepuasan dalam hidupnya.

Andragogi mempunyai 3 makna:

  1. Menurut keinginan dan tujuan (needs and goals) dari tiap individu. Maslow melukiskan need manusia itu di dalam suatu hirarki atau urutan yaitu dari paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis (makan, minum, pakaian, dan sebagainya), kebutuhan keamanan, kasih sayang, penghargaan dan urutan tertinggi kebutuhan kesempatan pengembangan diri.
  2. Memenuhi kebutuhan dan tujuan dari institusi yang senantiasa memerlukan pengembangan dan kemajuan dan tak lepas dari pendidikan baik formal ataupun informal
  3. Memenuhi kebutuhan dan tujuan masyarakat: Masyarakat itu kompleks, dinamis dan selalu berkembang. Pengembangan masyarakat menyangkut berbagai macam aspek, tiap aspek kehidupan dalam masyarakat dikembangkan oleh lembaga yang berhubungan atau lembaga yang berwenang atas aspek tersebut. Contoh di dalam instansi kesehatan akan mengembangkan aspek kesehatan masyarakat, instansi pertanian akan mengembangkan tingkat ekonomi masyarakat. Akhirnya seluruh aspek kehidupan masyarakat mencapai perkembangan yang harmonis. Tugas pendidikan disini adalah memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan atau pengertian, keterampilan, menimbulkan sikap positif tentang aspek-aspek yang bersangkutan sehingga dicapai suatu masyarakat yang berkembang.
  1. B.     Kebutuhan Pendidikan dan Format Orang Dewasa             
    1. Kebutuhan Pendidikan Orang Dewasa

Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metode apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun nonformal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa maupun mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangkan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang dan berkesinambungan. Dalam hal ini, terlihat adaya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangkan dalam aktivitas kegiatan di lapangan, pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dan setiap individu yang bersangkutan. Begitu pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa baik pria maupun wanita, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing.

Dengan demikian hal tersebut dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran orang dewasa yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan atau keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar bersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil dan adanya perubahan setelah adanya proses  belajar, yakni proses perubahan sikap dan tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya. Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas, dalam hal pendidikan orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dibekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam pribadinya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungan.

Perubahan perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih kearah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih diperlukannya sebagai penyempumaan hidupnya.

Setiap individu wajib terpenuhi kebutuhannya yang paling dasar (sandang dan pangan), sebelum ia mampu merasakan kebutuhan yang lebih tinggi sebagai penyempurnaan kebutuhan dasar tadi, yakni kebutuhan keamanan, penghargaan, harga diri, dan aktualisasi dirinya. Bilamana kebutuhan paling dasar yakni kebutuhan fisik berupa sandang, pangan, dan papan belum terpenuhi, maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka setiap individu perlu rasa aman jauh dan rasa sakit, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya, sebab ketidakamanan hanya akan melahirkan kecemasan yang berkepanjangan. Kemudian kalau rasa aman telah terpenuhi, maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak asasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai harga diri.

Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajarnya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan pendidikan atau pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang harus disediakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang ccok digunakan. Menurut Lunandi (1987) yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa yang dipelajari pelajar, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir yang dinilai adalah apa yang diperoleh orang dewasa dan pertemuan pendidikan atau pelatihan, bukan apa yang dilakukan pengajar, pelatih atau penceramah dalam pertemuannya.

Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau konsep yang dikemukakan para ahli tentang definisi belajar bagi orang dewasa bisa anda jadikan rujukan, antara lain:

  1. Reg Revans (Penggagas Action Learning)

Belajar bagi orang dewasa, menurut Reg Revans (1998) adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, Learning is experiencing by exploration and discovery”.

  1. Bob Sadino

Dalam banyak wawancara yang dikutip oleh sejumlah medi cetak, Bob Sadino, seorang pakar di bidang agrobisnis, seringkali melontarkan kata-kata pendek tetapi membutuhkan penjelasan yang tidak cukup dibeberkan dalam satu sessi seminar. Kata-kata itu tidak lain adalah: Cukup lakukan saja! Pernyataan tersebut megandung makna yang dalam dimana belajar merupakan bentuk transformasi visi ke suatu tindakan lalu berakhir dengan achievement.

  1. Charles Handy

Dalam bukunya Inside Organization (1999), Charles Handy mengemukakan bahwa siklus belajar orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu dengan kuriositas tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan testing di lapangan; dan terakhir refleksi-sebuah pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul di dalam diri. Thomas Edison, seorang penemu, adalah contoh paling reliable sepanjang zaman. Dikisahkan bahwa secara pendidikan formal akademik, Edison tergolong siswa yang tidak hebat tetapi ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengunjungi perpustakaan publik karena edisn menemukan sesuatu yang lebih bekerja terhadap hidupnya yang ia tidak dapatkan di bangku sekolah. Dengan proses belajar di perpustakaan tersebut Edison menemukan pelajaran tentang relaksasi mental. Meski tidak seorang guru pun yang memahamkannya, tetapi naluri Edison tahu bahwa relaksasi mental lah yang membantunya menciptakan temuan-temuan yang tercatat lebih dari 1000 hak paten hingga ia wafat tahun 1931.

  1. Alvin Toffler

Penulis buku terkenal ini mendefinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya meliputi pemahaman, aplikasi dari metodologi baru, keahlian, sikap dan nilai.

Dari definisi-definisi di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar bagi orang dewasa, ternyata memiliki berbagai dimensi. Oleh karena itu menjadikan pendidikan (education) sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang berkemampuan rata-rata atau minus. Lembaga sekolah, selain menciptakan birokrasi formal yang memberikan stigma bahwa sekolah adalah escalator tunggal yang mahal harganya, juga menunjukkan ketertinggalannya dengan kemajuan yng dicapai oleh dunia luar, akibatnya timbul gap antara pendidikan dengan tuntutan atau kebutuhan yang ada di masyarakat. Hal inilah yang akhirnya menjadi dasar mengapa pengangguran tidak bisa dihindari lagi. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar. Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu adalah dengan melakukannya, seperti yang ditulis oleh Rex dan Carolyin: ”We learn about a city from being there, not afrom a map or guide book. We learned to walk and talk without reading instructions or following recipes. Learning is doing something, then getting rid of the unwanted parasitic movements”.

Aplikasi Belajar

Merujuk pada sekian pandangan  tentang  belajar bagi orang dewasa, maka yang perlu anda lakukan adalah menjadikannya sebagai konsep hidup personal yang implementatif berdasarkan situasi dan kondisi yang anda hadapi. Konsep tersebut harus diformulasikan ke dalam pemahaman khusus yang anda rasakan bekerja mengubah hidup dan situasi, seperti yang dialami Edison. Guru anda adalah situasi yang konkrit yang anda alami dengan materinya berupa tantangan. Inilah makna esensial dari petuah yang sering anda dengar bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib. Ilmu yang tidak memiliki relevansi dengan situasi hidup anda oleh karena itu menjadi tidak wajib. Bagaimana anda mendaptkannya? Ikutilah formulasi berikut:

  1. Sadari keadaan anda saat ini

Terimalah keadaan atau situasi hidup apapun saat ini dengan penuh kesadaran karena kesadaran itu akan menjadi syarat mutlak untuk menaklukkan segala tantangan yang menghadang. Jika anda menerimanya dengan kepasrahan atau penolakan maka selamanya keadaan atau situasi yang tidak menyenangkan tidak bakal meninggalkan anda. Bahkan lambat laun menciptakan lilitan yang lebih tinggi dari kapasitas anda. Tanpa kesadaran untuk berubah, maka perubahan situasi atau kondisi eksternal hanaya memberi anda perubahan  dalam waktu singkat dan sisanya akan kembali lagi ke formal lama. Bahkan ketika anda naik jabatan mendadak, jabatan tersebut hanya anda rasakan kenikmatannya sebentar lalu anda lupa rasanya.

  1. Pahami proses

Salah satu pertanda inti dari orang dewasa adalah pemahamannya terhadap bagaimana dunia konkritnya bekerja. Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya, maka akan membuat anda menjadi bijak menjalani hidup. Tidak lagi berpikir dengan mood atau menerjang kaidah-kaidah hidup yang benar. Di samping itu, pemahaman tersebut akan menyalurkan energi positif ketika proses sedang anda jalani. Di sinilah yang membedakan apakah anda merasakan tantangan sebagi proses untuk dinikmati atau proses yang anda rasakan dengan kepedihan.

  1. Kemana anda akan melangkah

Setiap pekerjaan yang anda lakukan, setiap bidang yang anda geluti, setiap profesi yang anda sandang sebenarnya sudah diciptakan tangga kastanya di dalam. Termasuk seperti yang di alami kawan sopir taksi di atas. Ia boleh menjadi sopir, pedagang beras kaki lima, penjual es keliling selamanya meskipun tetap terbuka lebar peluang untuk menjadi manajer atau direktur bahkan pemegang saham di suatu perusahaan. Tangga kasta itulah yang menjadi simbol status anda tumbuh kearah menggerakkan diri sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya sebagi pribadi yang mandiri yang memiliki identitas diri. Dengan begitu orang dewasa tidak menginginkan orang memandangnya apalagi memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Dia mengharapkan pengakuan orang lain akan otonomi dirinya, dan dijamin kelentramannya untuk menjaga identitas dirinya dengan penolakan dan ketidaksenangan akan usaha orang lain untuk menekan, memaksa, dan manipulasi tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya. Tidak seperti anak-anak yang beberapa tingkatan masih menjadi objek pengawasan, pengendalian orang lain yaitu pengawasan dan pengendalian orang dewasa yang berada di sekeliling, terhadap dirinya.

Dalam kegiatan pendidikan atau belajar, orang dewasa bukan lagi menjadi obyek sosialisasi yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk menyesuaikan dirinya dengan keinginan-keinginan memegang otoritas di atas dirinya sendiri, akan tetapi tujuan kegiatan belajar atau pendidikan orang dewasa tentunya lebih mengarah kepada pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri untu menjadi dirinya sendiri, istilah Roger dalam Knowles (1979), kegiatan belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau meneukan jati dirinya. Dalam hal belajar atau pendidikan merupakan process of be coining a person. Bukan proses pembentukan atau process of being shaped yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang lain; atau kalau meminjam istilah Maslow (1966), belajar merupakan proses untuk mencapai aktualiasi diri (self-uchuslizatiun).

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa dalam diri orang dewasa sebagai siswa yang sudah tumbuh kematangan konsep dirinya timbul kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan dirinya sendiri. Namun tidak hanay orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja juga memiliki kebutuhan seperti itu. Sesuai teori Peaget (1959) mengenai perkembangan psikologi dan kurang lebih 12 tahun keatas individu sudah dapat berpikir dalam bentuk dewasa yaitu dalam istilah dia sudah mencapai perkembangan pikir formal operation. Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala persoalan secara logika, berpikir secara ilmiah, dapat memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai kematangan struktur kognitifnya.

Dalam periode ini individu muli mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identity) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya. Berbeda dengan anak-anak, di sini remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu di duga. Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan membanding-bandingkan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus sampai mencapai kematangan.

Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa pemuda (tidak hanya orang dewasa) memiliki kemampuan memikirkan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan sejak pertengahan masa remaja individu mengembangkan apa yang dikatakan “pengertian diri” (sense of identity). Selanjutnya, Knowles (1970) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang berbeda dengan pedagogi. Keempat asumsi pokok itu adalah sebagai berikut. Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dan ketergantungan total menuju kearah pengarahan diri sendiri. Atau secara singkat dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri. Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak. Asumsi kedua, sebagaimana individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique). Maka penggunaan teknik diskusi, kerja laboratory, simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai. Asumsi ketiga, bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung, secara implisit atau eksplisit, pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masyarakat. Karena itu, sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono, 1992). Sejalan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang, maka kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademi dan perkembangan biologisnya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. Dengan perkataan lain, orang dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya. Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa selah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya.

  1. Format Belajar Orang Dewasa
    1. Pendidikan Sebagai Bentuk Seni

Program-program pendidikan bukanlah menjadi bentuk seni dalam arti lukisan, puisi, patung, seni drama dan lainnya. Program pendidikan tidaklah bebas serta tidak pula merupakan suatu ekspresi perasaan manusia yang berakhir dengan sendirinya. Tetapi program pendidikan dapat mempunyai banyak kualitas yang sama seperti halnya seni yaitu dalam pengalaman keindahan. Kualitas keindahan dalam program pendidikan akan memberikan pengaruh terhadap kualitas pendidikan.

  1. Prinsip-prinsip Seni yang Diaplikasikan Dalam Pendidikan

–          Garis adalah memberikan arah kontinuitas dan gerakan dalam suatu rancangan

–          Ruang adalah bentuk suatu program yang berupa hubungan bermacam-macam satuan program dalam batas-batas bentuk

–          Rasa (tone) adalah penekanan yang bersifat relatif dalam suatu program

–          Warna dan intensitas suatu program yang memungkinkan seseorang menilai dalam hal cerah atau suram, formal atau informal dan sebagainya

  1. Memilih Format Belajar

Kegiatan belajar bagi pendidikan orang dewasa dirumuskan sebagai satuan-satuan pelajaran yang terpisah dari berbagai bentuk (format) belajar. Beberapa bentuk belajar:

  1. Bentuk belajar secara individual

–          Magang secara perorangan

–          Kursus tertulis

–          Bimbingan klinis dengan seorang pembimbing

–          Program studi secara terarah dengan seorang pembimbing

–          Pelajaran berprogram

  1. Bentuk belajar secara kelompok

–          Bentuk proyek

–          Lokakarya

–          Kelompok belajar

–          Konferensi

–          Kursus

–          Demonstrasi

–          Pameran

–          Rapat umum

–          Darmawisata

  1. C.    Metode Pendidikan Orang Dewasa                 

Dalam pembelajaran orang dewasa banyak metode yang diterapkan. Untuk memberhasilkan pembelajaran semacam ini, apapun metode yang diterapkan seharusnya mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran, yakni agar peserta dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang bermutu. Merupakan suatu kekeliruan besar bilamana dalam hal ini, pembimbing secara kurang wajar menetapkan pemanfaatan metode hanya karena faktor pertimbangannya sendiri yakni menggunakan metode yang dianggapnya paling mudah, atau hanya disebabkan karena keinginannya dikagumi oleh peserta di kelas itu ataupun mungkin ada kecenderungannya hanya menguasai satu metode tertentu saja.

Penetapan pemilihan metode seharusnya guru mempertimbangkan aspek tujuan yang ingin dicapai, yang dalam hal ini mengacu pada garis besar program pengajaran yang dibagi dalam dua jenis:

  • Rancangan proses untuk mendorong orang dewasa mampu menata dan mengisi pengalaman baru dengan memedomani masa lampau yang pernah dialami, misalnya dengan latihan keterampilan, melalui tanya jawab, wawancara, konsultasi, latihan kepekaan, dan lain-lain, sehingga mampu memberi wawasan baru pada masing-masing individu untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahui
  • Proses pembelajaran yang dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer pengetahuan baru, pengalaman baru, keterampilan baru, untuk mendorong masing-masing individu orang dewasa dapat meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkannya, apa yang menjadi kebutuhannya, keterampilan yang diperlukannya, misalnya belajar menggunakan program komputer yang dibutuhkan di tempat ia bekerja.

Sejalan dengan itu, orang dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih baik lagi kalau di samping itu ia dapat  melihat pula, dan makin efektif kalau dapat juga mengerjakan. Fungsi bicara hanya sedikit terjadi pada waktu tanya jawab. Untuk metode diskusi bicara dan mendengarkan adalah seimbang. Dalam pendidikan dengan cara demonstrasi, peserta sekaligus mendengar, melihat dan berbicara. Pada saat latihan praktis peserta dapat mendengar, berbicara, melihat dan mengerjakan sekaligus, sehingga dapat diperkirakan akan menjadi paling efektif.

  1. Kontinium proses belajar sebagai dasar metode pendidikan orang dewasa

Metode yang dapat diterapkan dalam program pendidikan orang dewasa sebaiknya dipertimbangkan sebagai alat untuk mencapai tujuan akhir yaitu agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermanfaat. Metode pendidikan orang dewasa sebaiknya dipilih berdasarkan tujuan pendidikan yang pada garis besarnya dapat dibagi dua jenis yaitu: (1) membantu orang menata pengalaman masa lalu yang dimilikinya melalui cara baru seperti; konsultasi, latihan kepekaan, dan beberapa jenis latihan manajemen yang membantu individu untuk dapat lebih memanfaatkan apa yang telah diketahuinya, (2) memberikan pengetahuan atau keterampilan baru, yakni mendorong individu untuk meraih pengetahuan atau keterampilan yang lebih baik.

Posisi atau sifat pengalaman belajar dalam kontinum proses belajar dapat mempengaruhi beberapa hal yaitu:

  1. Persiapan dan orientasi bagi proses belajar
  2. Suasana dan kecepatan belajar
  3. Peran dan sikap pembimbing
  4. Peran dan sikap peserta didik
  5. Metode yang diterapkan agar usaha belajar berhasil
  6. Pemilihan jenis pertemuan

Beberapa pertanyaan yang dapat dipergunakan dalam membantu menentukan jenis pertemuan mana yang cocok untuk program pendidikan orang dewasa (Morgan, et. Al. 1976).

  • Usaha atau kegiatan apa yang akan diorganisasikan?
  • Tugas apa yang ingin diselesaikan?
  • Siapa saja yang menjadi sasarannya
  • Bagaimana pesan dapat disampaikan sebaik mungkin?
  • Masalah apa saja yang mungkin timbul dalam pengorganisasian pertemuan yang harus dipecahkan?

Jenis-jenis pertemuan yang umum dilakukan dalam pendidikan orang dewasa adalah (Morgan, et. Al. 1976).

  1. Institusi (institution)

Dalam institusi diharpkan akan berlangsung pemberian informasi dan instruksi serta identifikasi masalah dan pemecahannya. Suatu institusi memerlukan pengorganisasian dan tindak lanjut suatu supervisi yang baik dengan dipimpin oleh orang yang ahli dalam melaksanakan program dan mendelegasikan tanggung jawab sehingga mampu menggunakan sebagai macam teknik kelompok untuk partisipasi individu. Suatu institusi harus ada perencanaan, panitia pelaksanaan dan evaluasi akhir.

  1. Konvensi

Konvensi adalah kumpulan peserta datang dari kelompok lokal yang merupakan organisasi orang tua baik dari tingkat kabupaten, provinsi, ataupun tingkat nasional. Maksud dasarnya adalah untuk mendiskusikan dan memikirkan ide-ide yang mungkin dapat memperkuat organisasi ornag tua murid (Morgan, et. Al. 1976). Salah satu manfaat konvensi adalah memberikan peserta secara individual kesempatan melihat organisasi sebagai suatu badan penting dimana ia dapat mengidentifikasikan dirinya.

  1. Konferensi

Konferensi merupakan pertemuan dalam kelompok besar maupun kecil. Konferensi ciri khususnya diikuti dengan kata sebutan yang menunjukkan tema konferensi sebagai contoh konferensi pendidikan agama, konferensi tanaman dan konferensi supervisor.

  1. Lokakarya (workshop)

Lokakarya adalah pertemuan orang yang bekerja sama dalam kelompok kecil, biasanya dibatasi pada masalah yang dihadapi sendiri. Peran peserta diharapkan untuk dapat menghasilkan produk tertentu. Susunan acara lokakarya meliputi identifikasi masalah, pencarian dan usaha pemecahan masalah dengan menggunakan referensi dan materi latar belakang yang cukup tersedia.

  1. Seminar

Seminar secara umum dikenal sebagai lembaga belajar. Maksud seminar adalah mempelajari subjek di bawah seorang pemimpin yng menguasai bidang yang diseminarkan, setelah pemberian materi atau penyajian diskusi terbuka dilakukan. Seminar sering dihubungkan dengan riset.

  1. Kursus kilat

Kursus kilat merupakan institusi yang sangat intensif selama satu hari atau lebih tentang beberapa subjek khusus sehingga terbatas bagi kelompok khusus dan temanya jarang sekali mempunyai daya tarik yang universal.

  1. Kuliah bersambung

Kuliah bersambung adalah suatu rangkaian penyajian yang diberikan oleh dosen dengan periode waktu satu kali per hari, satu kali per minggu atau satu kali per bulan. Kuliah bersambung menekankan kontinuitas jalan pikiran, mereka yang sering tidak hadir akan kehilangan kontinuitas tersebut.

  1. Kelas formal

Kelas formal dalam pendidikan orang dewasa biasanya bergabung dengan program sekolah. Berhubung kelas formal ini merupakan rangkaian pertemuan, maka instruktur harus mempunyai keahlian dalam mempertahankan minat yang tinggi dari para pesertanya.

  1. Diskusi terbuka

Diskusi terbuka adalah salah satu jenis pendidikan orang dewasa yang penting. Dalam diskusi terbuka memerlukan seorang pemimpin yang ahli untuk mengatur jalannya diskusi sehingga semua peserta mempunyai kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka.

  1. Merencanakan pertemuan

Dalam perencanaan harus mengarahkan perhatian pada:

v  Tahap pendahuluan untuk menghubungi orang

v  Cara menerima peserta

v  Apa yang terjadi pada pertemuan

v  Cara mengevaluasi pertemuan

  1. Pra pertemuan

–          Menanyakan apa yang harus dikerjakan?

–          Apa tujuan pertemuan?

–          Siapa yang ikut serta?

–          Kepada kelompok apa pertemuan ditujukan?

–          Metode apa yang digunakan?

–          Tempat dan sumber

  1. Penerimaan peserta

Penerimaan peserta harus memikirkan bagaimana sebaiknya menerima peserta yang datang.

  1. Prosedur pertemuan

Prosedur pertemuan dimulai dan dilaksanakan dengan cara santai, tetapi harus ingat tujuan pertemuan dan metode terbaik yang ditetapkan untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. Evaluasi

Evaluasi dapat melalui angket reaksi pasca pertemuan ataupun dengan analisis sendiri.

  1. Metode dalam pertemuan
    1. Penyajian formal (semua berlangsung satu arah dari pembicara kepada peserta)

–          Ceramah atau kuliah

–          Simposium

–          Diskusi panel

–          Kolokium (olloquy)

  1. Teknik diskusi

–          Diskusi terbuka

–          Diskusi kelompok dengan wakil pimpinan (coleader)

–          Sesi buzz

–          Tim pimpinan

–          Pimpinan diskusi

–          Pengamat proses

–          Notulen

–          Nara sumber

–          Tim pendengar

–          Bermain peran (role playing)

–          Skit drama

–          Curah pendapat (brainstorming)

–          Diskusi informal

–          Debat

–          Diskusi mangkuk ikan

–          Teknik kelompok nominal

–          Forum

–          Forum kuliah

–          Forum simposium

–          Forum panel

  1. Demonstrasi dan laboratorium

–          Demonstrasi metode

–          Demonstrasi hasil

–          Prosedur laboratorium

  1. Widyawisata (karyawisata)
  2. Audiovisual
  3. Komunikasi tertulis

 

 

 

Penyajian Formal

  1. Ceramah atau kuliah

Ceramah atau kuliah adalah penyajian secara lisan oleh pembicara dengan menggunakan pemikiran dan ide yang terorganisir. Dengan ceramah diharapkan ide dapat dicetuskan, masalah dapat diidentifikasikan dan pendengar dapat dimotivasi untuk bertindak. Mardikanto (1992) membedakan ceramah dan kuliah, ceramah diselenggarakan di tempat terbuka, peserta banyak dan kesempatan peserta bertanya sedikit. Sedangkan kuliah diselenggarakan di tempat tertutup, peserta relatif sedikit dan kesempatan bertanya banyak.

  1. Simposium

Simposium seperti ceramah di mana peserta mendengarkan penyajian formal yang diberikan dari mimbar. Sehingga sering pendengar bersikap pasif.

  1. Diskusi panel

Kelompok kecil biasanya sekitar 6 orang duduk di belakang mimbar berhadapan dengan pendengar yang hadir dan mendiskusikan topik tertentu yang mereka kuasai.

  1. Kolokium (olloquy)

Kolokium berbeda dengan metode penyajian formal yang lain, yakni penampilan panelis dan partisipasi pendengar lebih banyak terjadi. Kesuksesan kolonium banyak bergantung pada efisiensi pimpinan atau moderator.

  1. Variasi penyajian formal

Program ingin dikembangkan menjadi pertemuan mimbar formal, tetapi pendengar diberi kesempatan untuk berpartisipasi program dikembangkan jadi forum. Forum didefinisikan sebagai penyajian panelis mimbar dengan memberikan pertanyaan dan komentar. Ada beberapa manfaat dalam penggunaan forum dalam forum kuliah dan forum simposium. Informasi yang diberikan secara langsung lebih banyak. Dalam forum panel anggota pendengar diperbolehkan mengajukan pertanyaan dengan ada keterbatasan efektivitas prosedur. Jika direncanakan akan menggunakan metode forum acara harus diumumkan lebih dulu.

  1. D.    Merancang Kebutuhan Orang Dewasa           

Proses merancang dan melaksanakan kegiatan belajar tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Menciptakan iklim untuk belajar

–          Persiapan sarana belajar dan kegiatan

–          Pengaturan fisik

–          Acara pembukaan

  1. Membentuk struktur perencanaan
  2. Mendiagnose kebutuhan belajar

–          Mengembangkan model kompetensi: penelitian, pertimbangan para ahli, analisis tugas, partisipasi kelompok

–          Menilai tingkat penampilan sekarang

–          Memberikan bukti-bukti mengenai penampilan saat ini

–          Penilaian kebutuhan belajar

  1. Merumuskan tujuan belajar
  2. Merancang pola pengalaman belajar

–          Prinsip-prinsip mengorganisir pengalaman belajar

–          Model rancangan belajar

  1. Mengelola pengalaman belajar

–          Teknik

  • Teknik prestasi
  • Teknik partisipasi (pertemuan)
  • Teknik diskusi
  • Teknik simulasi
  • Teknik group
  • Latihan tanpa bicara
  • Latihan mempraktekkan

–          Bahan dan sarana belajar

  • Buku teks
  • Bahan belajar yang buat sendiri oleh fasilitator
  • Alat pandang dengar
  1. Evaluasi hasil dan mendiagnosa kembali kebutuhan belajar
  1. E.     Evaluasi Pendidikan Orang Dewasa    

Evaluasi pendidikan orang dewasa adalah proses menentukan kekuatan atau nilai pekerjaan pendidik atau pembimbing pendidikan orang dewasa. Evaluasi adalah suatu cara mengukur hasil kegiatan pendidikan.

Berdasarkan tingkat formalitasnya evaluasi dapat dibagi menjadi tiga tingat yaitu (1) evaluasi informal, (2) evaluasi semi formal, (3) evaluasi formal atau penelitian ilmiah. Evaluasi menurut tujuannya dapat dibagi menjadi 2 yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

Manfaat evaluasi:

  • Menentukan patokan awal
  • Mengetahui keberhasilan suatu kegiatan
  • Mengecek secara periode efektivitas suatu program
  • Memberikan rasa aman kepada pelaksana tugas
  • Memberi bukti kongkret kepada pihak yang terkait
  • Meningkatkan sikap profesional kepada penerima evaluasi

Tujuan evaluasi:

  • Untuk menentukan seberapa dekat peserta didik secara individual dan keseluruhan kelas telah mencapai tujuan umum yang telah ditentukan
  • Untuk mengukur tingkat perkembangan yang telah dicapai oleh peserta didik dalam waktu tertentu
  • Untuk menentukan efektivitas bahan, metode, dan kegiatan pengajaran
  • Untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi peserta didik, instruktur dan masyarakat

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam evaluasi:

  • Mempunyai tujuan yang pasti
  • Menggunakan tujuan perilaku yang terjangkau dan pasti
  • Bukti tentang perubahan dalam diri individu
  • Menggunakan instrumen yang berbeda dalam evaluasi
  • Kerja sama antara peneliti dan orang yang dinilai kemajuan
  • Tidak perlu mengevaluasi semua hasil pembelajaran
  • Evaluasi harus berkesinambungan

Prinsip evaluasi yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelaksanaan evaluasi (Frutchey, 1973) adalah:

  1. Mengembangkan sikap kritis
  2. Mengenal bias pribadi
  3. Melakukan observasi silang ntuk menentukan seberapa jauh konsistennya masalah itu
  4. Cek lebih juh untuk menentukan apakah ada perilaku basa-basi
  5. Pertimbangkan penyebab lain yang mungkin ada
  6. Berhati-hati untuk tidak hanya membaca observasi yang kita harapkan saja dan mengabaikan interpretasi yang masuk akal
  7. Dalam mengevaluasi hasil atau produk perilaku gunakan kriteria untuk menilainya
  8. Cek lebih jauh untuk menentukan apakah hasil atau produk yang diklaim seseorang benar-benar hasil orang itu
  9. Kenali bahwa banyak perilaku yang saling menutupi satu sama lain
  10. Hindari tergesa-gesa membuat kesimpulan, hendaknya hati-hati dan secermat mungkin

Prosedur evaluasi pendidikan orang dewasa menurut Morgan

  1. Mengecek tujuan
  2. Memeriksa apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan
  3. Mengumpulkan bukti
  4. Menentukan sumber bukti
  5. Menentukan alat untuk memperoleh bukti
  6. Menganalisis bukti

2 thoughts on “HAKEKAT PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s