KEADAAN PSIKOLOGI ANAK PANTI ASUHAN

Berlatar belakang dari hasil penelitian Bowlby (Monks, Knoers, & Haditono, 1994), yang menyatakan bahwa perkembangan anak yang sehat secara fisik, psikologis, dan sosial membutuhkan suatu hubungan yang harmonis antara tiga unsur pokok, yaitu:
1. Hubungan antara ibu dan anak
2. Hubungan antara anak dan keluarga
3. Hubungan antara anak dan lingkungan sosialnya

Selain itu, Margareth (dalam Hurlock, 1995) dalam laporan hasil penelitiannya juga menyimpulkan bahwa Perawatan anak di yayasan sangat tidak baik,karena anak dipandang sebagai makhluk biologis bukan sebagai makhlukpsikologis dan makhluk sosial. Padahal selain pemenuhan kebutuhan fisiologis, anak membutuhkan kasih sayang bagi perkembangan psikis yang sehat seperti halnya vitamin dan protein bagi perkembangan biologisnya.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang terlantar semakin meningkat, sementara hanya sebagian kecil dari mereka (kira-kira 15%) yang mampu ditampung di panti asuhan, baik swasta maupun pemerintah. Realitas juga menunjukkan bahwa mereka yang beruntung (diasuh di panti asuhan) saja menunjukkan perkembangan kepribadian dan penyesuaian sosial yang kurang memuaskan, dapat dibayangkan keadaan yang lebih memprihatinkan lagi pada anak-anak terlantar yang belum terjangkau penanganan dari pihak yang berwenang.
Sementara masyarakat sering memberi cap negatif pada anak-anak panti asuhan tanpa melihat lebih jauh, kenapa atau bagaimana hal-hal negatif itu bisa terjadi. Oleh karenanya, dengan mendasarkan diri pada persepsi masyarakat dan pendapat beberapa ahli bahwa dalam kehidupan di panti asuhan, anak-anak tidak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi perkembangan psikologisnya, maka kiranya kita perlu mengetahui kebutuhankebutuhan psikologis anak panti asuhan agar mereka mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan psikologis yang mereka butuhkan, sehingga perkembangan fisiknya sejalan dengan perkembangan psikologis dan sosialnya. Karena, perkembangan yang sehat dalam hal perkembangan fisik, psikologis dan sosial anak-anak panti asuhan sangatlah diperlukan agar mereka mampu hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat luas terutama setelah mereka harus melampaui pasca terminasi (harus keluar dari lingkungan panti asuhan setelah mampu hidup mandiri/setamat SMU).

Perkembangan Kepribadian Individu
Perkembangan manusia (Monks, et. al., 1994) pada dasarnya terdiri dari:
1. perkembangan motorik
2. perkembangan sosial
3. perkembangan emosi/psikologis
4. perkembangan kognisi

Dimana keempat macam perkembangan itu harus berkembang secara seimbang dan proporsional agar dapat mendukung seorang individu mengembangkan pola kepribadiannya secara sehat. Kemudian NICHD (1999) dalam hasil penelitiannya menekankan bahwa seorang anak yang hingga usia dewasa menginginkan untuk dapat mengembangkan pola kepribadian yang sehat, maka mereka membutuhkan lingkungan pengganti keluarga yang memungkinkan terpenuhinya segala kebutuhannya, baik kebutuhan fisik, psikologis maupun soisalnya, seandainya dalam keluarganya sendiri suasana dan kondisi untuk terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya baik fisik, psikologis maupun sosialnya tidak
terpenuhi secara wajar. Oleh karena itu, bagaimanapun alasan dan sebab hilangnya pemeliharaan ibu pada tahun-tahun pertama dari umur anak adalah tidak dibenarkan dalam mendukung perkembangan kepribadiannya di masa mendatang. Karena berakibat tidak baik terhadap pertumbuhannya, baik fisik, perasaan, kecerdasan, atau sosialnya. Di sini tampak jelas pentingnya peranan orang tua terutama ibu dalam mengembangkan kepribadian yang sehat bagi anak. Di sisi lain Rutter (Monks, et. al., 1994) menyatakan bahwa kasih sayang ibu merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk menjamin suatu perkembangan psikis yang sehat pada anak. Pemberian kasih sayang ini tidak harus berasal dari ibu biologis, bisa juga dari orang lain (ibu pengganti). Sikap orang tua yang baik yang mampu mengembangkan kepribadian anak secara baik pula adalah sikap menerima. Sikap menerima adalah salah satu bentuk asuhan yang banyak memberikan reinforcement positif– mencintai, memperhatikan, mendukung, serta mampu menjalin hubungan yang dekat dengan anak-anak asuhannya. Dengan sikap menerima itu diharapkan tidak terjadi ketimpangan dalam salah satu perkembangannya, baik perkembangan fisik, sosial, kognitif maupun emosinya, karena tidak terpenuhinya salah satu akan mengganggu perkembangan sehat bagi individu yang bersangkutan. Keempat perkembangan itulah yang menjadikan manusia mempunyai arti dan makna bagi lingkungannya. Jadi keempat macam perkembangan itu harus berjalan secara serasi dan seimbang serta tidak berat sebelah.

Sikap menerima orang tua biasanya tercermin dalam beberapa perilaku seperti di bawah ini (Hurlock, 1995):
• terlibat dengan anak ( dalam permainan, olah raga, hobby, dalam menikmati liburan bersama)
• Memperhatikan rencana-rencana dan cita-cita anak
• Menunjukkan kasih sayang
• Berdialog secara baik dengan anak
• Menerima anak sebagai individu (person)
• Memberikan bimbingan dan semangat
• Tidak menuntut berlebihan
• Merasa cemas bila anak sakit.
Sedangkan beberapa sikap tidak menerima/sikap menolak tampak dalam perlaku seperti di bawah ini :
• Tidak memperhatikan anak
• Mengabaikan anak, dan tidak banyak waktu untuk anak
• Membanding-bandingkan anak dengan anak lain
• Menghukum secara fisk maupun secara verbal (mengkritik, menghukum, mencela, dan sebagainya)
• Gagal dalam memberikan dukungan kepada anak

• Tidak berbicara secara baik dengan anak dan tidak menghendaki kehadirannya
• Banyak memberikan pengawasan, mengabaikan anak misalnya: dalam hal pakaian, kesehatan, ulang tahun dan sebagainya.
Perkembangan yang sehat antara perkembangan fisik, psikologis dan sosial seorang individu akan menghasilkan suatu kepribadian yang utuh dan dewasa. Individu yang dewasa secara psikis akan mampu menerima kehidupan yang dihadapi serta mempunyai sikap pendirian dan pandangan hidup yang jelas, sehingga individu yang dewasa mampu hidup di tengah-tengah masyarakat luas secara harmonis.
Beberapa keadaan yang sering menyebabkan perkembangan kepribadian yang kurang optimal menurut Hurlock (1993) adalah hal-hal di bawah ini:
• keluarga retak
• kurangnya perhatian orang tua
• fasilitas perumahan yang buruk
• unsur kebudayaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak
• kemiskinan orang tua. Orang tua meninggal, ataupun anak yang tidak dikehendaki (unwanted children).

Kebutuhan Psikologis
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh sesuatu yang akan diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan (Murray dalam Bherm, 1996). Kebutuhan-kebutuhan psikologis dalam diri individu merupakan sesuatu hal yang akan memberikan warna khusus/ ciri khas pada individu tersebut. Oleh karena itu, individu dengan dominasi kebutuhan-kebutuhan tertentu mempunyai kecenderungan untuk ingin lebih memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sama halnya dengan kebutuhan fisik seperti makan, minum, tidur, berolah raga dan lain sebagainya yang harus dipenuhi secara baik agar fisik dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan baik. Demikian juga kebutuhan sosial seseorang yang membutuhkan hubungan dengan orang lain agar dapat
mencapai perkembangan optimal, dan juga kebutuhan kognitif yang membutuhkan rangsangan dari luar agar mampu berkembang optimal juga, maka kebutuhan psikologis pada seseorang juga harus terpenuhi agar dirinya mampu berkembang secara baik dan sehat secara psikologis. Ada beberapa kebutuhan psikologis pada diri seorang individu agar individu tersebut mampu mengembangkan kepribadiannya secara sehat, diantaranya (Elmira, 1997),
1. Adanya kebutuhan untuk dihargai atas prestasi yang dicapainya
2. Adanya kebutuhan untuk dapat menyesuaikan diri dengan tata cara/aturan-aturan lingkungannya.
3. Adanya kebutuhan untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas yang telah dilaksanakannya
4. Adanya kebutuhan untuk dapat diterima apa adanya oleh lingkungannya
5. Adanya kebutuhan untuk mandiri
6. Adanya kebutuhan untuk mendapatkan teman-teman dan orang-orang yang dapat menjalin pergaulan secara hangat dan harmonis
7· Adanya kebutuhan untuk terlbat secara emosional dengan lingkungannya
8. Adanya suatu kebutuhan untuk dimanjakan oleh orang lain
9. Adanya kebutuhan untuk mengadakan suatu perubahan ke arah yang lebih baik.
10. Adanya kebutuhan untuk dapat menyalurkan dorongan emosinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s