BAGAIMANA MENJADI GURU YANG BAIK?

  1. Dalam pasal 12 ayat (1) undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional secara tegas dinyatakan bahwa peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Kurikulum 2006 atau yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan sesuai dengan relevansinya berpedoman pada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta panduan penyusunan kurikulumberdasarkan prinsip-prinsip berikut:
    1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
    2. Beragam dan terpadu
    3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
    4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
    5. Menyeluruh dan berkesinambungan
    6. Belajar sepanjang hayat
    7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

    Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dikembangkan berdasarkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning). Pembelajaran tuntas menghendaki semua peserta didik dapat belajar jika disediakan kondisi yang tepat dan waktu belajar yang cukup. Pembelajaran model ini tidak memfokuskan pada materi akan tetapi lebih pada proses pencapaian ketuntasan. Alokasi waktu yang digunakan untuk belajar harus diatur sesuai dengan kemampuan dari masing-masing peserta didik. Menurut asumsi pembelajaran tuntas bahwa setiap peserta didik memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda, maka waktu yang diperlukan untuk belajar tidak sama.

    Prinsip pembelajaran tuntas:

    –       Instruksional pembelajarannya harus menyesuaikan kondisi setiap peserta didik

    –       Memperhatikan dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik. Jadi, peserta didik dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuannya dan diajarkan sesuai dengan karakteristik mereka.

    –       Strategi pembelajaran yang berazaskan maju berkelanjutan (continuous progress).

    –       Pembelajaran dipecah-pecah menjadi satuan-satuan kecil (cremental units).

    –       Peserta didik tidak akan diperkenankan belajar materi berikutnya apabila materi prasyaratnya belum tuntas. Seorang peserta didik yang mempelajari satuan pelajaran tertentu dapat berpindah ke satuan pelajaran berikutnya apabila peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% indikator (tergantung pada kondisi sekolah).

    –       Penilaian harus menggunakan acuan kriteria. Artinya prestasi belajar dari seorang peserta didik tidak dibandingkan dengan peserta lain di dalam kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang telah ditetapkan.

    Sebenarnya apakah seorang guru itu harus profesional? Dalam pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa standar nasional pendidikan yang terdiri atas standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.

    Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi  siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Oleh karenaa itu, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat diitentukan oleh kualitas atau kemampuan guru.

    Menurut Dunkin ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu:

    1. Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka.
    2. Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru.
    3. Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru.

    Proses pembelajaran itu sendiri menurut Standar Proses Pendidikan merupakan kegiatan yang tidak hanya menekankan peran guru di dalamnya, tetapi siswa harus di jadikan subjek atau prilaku dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu paradigma yang keliru tentang pembelajaran selama itu harus di ubah dan di sesuaikan dengan Standar Proses Pendidikan ( SPP ). Standar proses pendidikan bagi guru berfungsi sebagai pedoman dalam pembuatan perencanaan program pembelajaran, baik program untuk periode tertentu maupun program pembelajaran, baik baik program untuk periode tertentu maupun program pembelajaran harian, dan sebagai pedoman untuk implementasi program dalam kegiatan nyata di lapangan.

  2.      A.  PENGANTAR
  3. Tata  krama guru atau etika guru secara resmi tidak ada. Tata krama guru yang ada hanya GURU, “Jawa Dhosoknya “ DI GUGU LAN  DITIRU”.
    1. Kalau ada tata krama atau etika guru, harus ada sangsinya.
    2. Di masyarakat, tidak ada sanksi resmi yang ada sanksi moral
    3. Saksi moral kadangkala lebih berat. Contohnya seseorang guru berbuat asusila pada murid X, tetapi berita di koran Guru berbuat asusila pada muridnya.
    4. Atas dasar pemahaman ini, maka topik bahasan ini menjadi : BAGAIMANA MENJADI GURU YANG BAIK”
  4. B.  KONDISI GURU
    1. Guru Zaman dulu

Guru yang baik itu:

  1. Mempunyai “Prabawa”.
  2. Mempunyai “Wibawa”.
  3. Mempunyai pendirian yang tegas dan lugas.
  4. Guru mencari murid dan guru yang tidak komersial.
  5. Murid taat
  6. Sifat paguron ada yang baik/tidak baik.
  7. Keberhasilan murid yang ditanya gurunya siapa.
  8. Guru adalah sentral, mutlak, otoriter wakil orang tua.
  9. Guru adalah segala-galanya.
  10. Semboyan guru waktu itu
    1. Nglurug tanpa bala
    2. Menang tanpa ngasorake
    3. Ing Ngarso sing tuladha
    4. Ing madyomangun karso

(RM. Sosrokartono)

  1. Guru Masa kini
    1. Pada awal kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara mengatakan: “jangan kamu mengucapkan kemerdekaan diri, kalau tidak tertib damai”.
    2. Dengan ucapan ini lahir Pendidikan Sistem Pamong dan semboyannya “Tut Wuri Handayani”.
    3. Filosofinya: Dasar lebih kuat dari ajar.
    4. Filosofi ini bertentangan dengan pendirian Tabularasa atau kertas putih. (John Dewey)
    5. Guru masa kini harus mengetahui perkembangan filosofi pendidikan. Dalam teori modern longstreet dan shane filosofinya mengelompokkan pendidikan pada empat hal yaitu:
      1. Perennialism, teori ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat tempat dan waktu.
      2. Essentialism, filosofi pendidikannya menekankan pada individu sebabindividu adalah sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
      3. Progressivism, filosofi pendidikannya menekankan pada perbedaan individu, berpusat pada mahasiswa.
      4. Reconstructivism, filosofinya bahwa pendidikan itu merupakan elaborasi dari progressivism.
    6. Dalam perkembangan lebih lanjut ada filosofi Ignatius Loyola. Penekanan pendidikan lebih bersifat MILITER dengan strategi tegas, keras, terpimpin dan terprogram.
  1. C.  RANAH (DOMAIN) BELAJAR

Seorang guru yang baik harus mengenal ranah-ranah belajar yang secara psikologis menjadi dasar PBM.

Taksonomi Bloom terbagi menjadi 3 katagori perilaku belajar yang saling berkaitan.

1. Ranah kogniti

  2.Ranah Afektif

Domain ini terkenal berkat kerja sama Krathwohl sebagai anggota Bloom.

 3.Ranah Psikomotorik

Ranah ini dalam penelitian  Bloom, dikelola oleh Harrow, yaitu mengkoordinasikan ketidaksengajaan dan derajad kemampuan yang dilatihkan.

  1. 3.    Perbaikan Taksonomi

Dunia pendidikan di Indonesia memanfaatkan Taksonomi Bloom dari 1950-1990. Pada abad XXI, Lorin Aderson sebagai murid Bloom mencoba memperbaiki khususnya pada ranah kognitif.

Taksonomi Bloom

Taksonomi Anderson

Pengetahuan

Mengingat

Pemahaman

Memahami

Penerapan

Menerapkan

Analisis

Menganalisis

Sintesis

Menilai

Penilaian

Menciptakan

  1. 4.    Desain Robert Gagne

Pada tahun 1965 Gagne mengintroduksikan teorinya dalam bukunya “The Condition Of Learning” yang mendasarkan teori pembelajaran yang dikenal dengan Teori Behaviros.

Pada tahun 1985 Gagne menggambungkan teori desain pembelajaran dengan teori psikologi kognitif, dengan nama Model Kognisi Pemprosesan Informasi.

Proses Internal

Proses Eksternal

Perhatian Membangun perhatian
Pemilihan persepsi Meningkatkan dan membedakan sifat obyek
Pengkodean  semantik Instruksi verbal, gambar, diagram
Perolehan informasi Isyarat, organ yang membantu ingatan
Pengelolaan respon Instruksi verbal tentang tujuan kinerja kelas
Proses pengawasan Instruksi membangaun sesuatu yang dapat mengaktifkan dan menentukan strategi
Harapan Menjelaskan pembelajar tentang tujuan untuk memenuhi harapan

Teori Gagne memberi tekanan bahwa kejadian-kejadian eksternal perlu diatur sedemikian rupa agar pengaruhnya terhadap internal dapat menghasilakan respon yang sesuai dengan harapan tujuan pembelajaran. Proses Internal disebut kejadian belajar, proses eksternal dinamakan kejadian pembelajaran.

Kejadian Belajar, mencakup:

–          Pembelajar Tegasnya r (alat indera)

–          Situasi stimulus

–          Ingatan

–          Respon

Kejadian Pembelajaran, mencakup:

–          Mengaktifkan motifasi

–          Menjelaskan pebelajar tentang tujuan

–          Mengarahkan perhatian

–          Menstimulasi ingatan

–          Meningkatkan transfer

–          Menimbulkan kinerja

–          Menyediakan balikan

  1. 5.    Taksonomi Hasil Belajar

Menurut Gagne, Briggs, dan Walter, cara terbaik menyususn desain instruksional adalah bekerja terbalik, yaitu: dari hasil pelajaran yang diharapkan.

Hasil belajar dikelompokkan pada 5 kategori yaitu:

  1. Ketrampilan intelektual
  2. Strategi kognitif
  3. Informasi verbal
  4. Keterampilan psikomotor
  5. Sikap

Kelimanya merupakan komponen hasil belajar

Taksonomi

Definisi

Hasil

Keterampilan intelektual Pengetahuan prosedural (membedakan konsep konkret, konsep, aturan, pemahaman tingkat mendefinisikan tinggi Mendengarkan, membedakan, menunjukkan hubungan, mengelompokkan, menunjukkan perubahan (air di bawah 00), penerapan konsep
Strategi kognitif Unik, efektif, kreatif strategis melihat masalah dengan cara baru Menciptakan cara pembuangan
Informasi verbal Menyatakan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, prosedur Menjelaskan pemahaman terhadap isi (UUD 1945)
Keterampilan psikomotor Gerak tunggal yang lancar ke prosedur yang rumit Mengendarai sepeda
Sikap Pengetahuan tentang keberhasilan pilihan Bersedia dipilih atau terpilih
  1. 6.    Model Pemprosesan Informasi

Modelnya :

  1. Belajar merupakan proses mengelola informasi.
  2. Pikiran peserta didik dianggap sebagai komputer.
  3. Pengetahuan dapat dialihkan.

Karakteristik

Ingatan Jangka Pendek

Ingatan Jangka Panjang

Input Sangat cepet Lambat
Kapasitas Terbatas Hampir tak terbatas
Durasi 20-30 Hampir tak terbatas
Isi Kata-kata, gagasan/ ide, kalimat pendek Skema, gambar
Penarikan/ pengeluaran kembali informasi Segera Pengelolaan, representasi
  1. D.  KOMPETENSI

1.  Arti Kompetensi

            Kompetensi adalah sekumpulan pengetahuan , keterampilan, sikap, dan nilai sebagai kinerja yang berpengaruh terhadap peran, perbuatan, prestasi serta kerja seseorang.

Menurut Specler, kompetensi adalah karakteristik mendasar seseorang yang berhubungan timbal balik dengan sesuatu kriteria efektif sebagai kecakapan terbaik seseorang dalam pekerjaan.

Ahli ini membahas lima kompetensi yang dimiliki seseorang, yaitu:

  1. Motif, adalah sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berpikir konsisten.
  2. Pembawaan, adalah karakteristik yang merespon untuk berpikir konsistenterhadap berbagai situasi/ informasi.
  3. Konsep diri, adalah image seseorang yang diwujudkan dalam tingkah laku, nilai, dan citra.
  4. Pengetahuan, adalah informasi khusus yang dimiliki seseorang.
  5. Keterampilan, adalah kemampuan melakukan tugas secara fisik.

Prinsip-prinsip kompetensi

  • Meluas, peserta memperoleh pengembangan tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, estetika dan logika.
  • Seimbang, tiap kompetensi dapat dicapai melalui alokasi waktu yang cukup.
  • Relevan setiap kompetensi saling terkait.
  • Perbedaan, memperhatikan kemampuan individu.

Cara menyusun kompetensi

–                    Menentukan kompetensi lulusan.

–                    Gunakan bahasa yang mudah, artinya jelas, lugas dan tegas.

–                    Nyatakan target.

–                    Dicapai keseimbangan, penekanan, dan fokus ditentukan

–                    Batasan kompetensi terarah dan terfokus.

–                    Klasifikasi kompetensi sejenis, tetapi tidak memaksakan.

–                    Koordinasi kompetensi.

Urutan menyusun kompetensi

  1. Tentukan standar kompetensi, artinya ukuran yang diterapkan untuk dicapai.
  2. Kompetensi dasar, artinya volume kompetensi minimal yang harus dicapai atau dimiliki seseorang pada materi tertentu.
  3. Indikator, adalah tanda-tanda kompetensi yang akan dicapai.
  4. Materi, artinya pokok bahasan yang disampaikan pada siswa.
  5. Topik, artinya pokok bahasan yang akan disampaikan.

2.  Kompetensi Guru

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mengisyaratkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai bahwa guru haruslah orang yang memiliki instink sebagai pendidik, mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (2) pemahaman terhadap peserta didik, (3) pengembangan kurikulum/silabus, (4) perancangan pembelajaran, (5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran, (7) evaluasi proses dan hasil belajar, dan (8) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
  2. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup (1) berakhlak mulia, (2) arif dan bijaksana, (3) mantap, (4) berwibawa, (5) stabil, (6) dewasa, (7) jujur, (8) mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (9) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan (10) mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
  3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi (1) berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,(3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.
  4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan (1) materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan (2) konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi (a) pengenalan peserta didik secara mendalam; (b) penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu (diciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah (pedagogical content); (c) penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan; dan (d) pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan.

Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 menyatakan bahwa profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

  1. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
  2. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
  3. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
  4. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
  5. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
  6. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
  7. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
  8. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
  9. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:

  1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
  3. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
  4. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
  5. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

3. Peningkatan Kemampuan Profesional

  1. Guru sebagai Jabatan Profesional

Untuk meyakinkan bahwa guru sebagai pekerjaan professional, marilah kita tinjau syarat-syarat atau ciri pokok dari pekerjaan professional.

  1. Pekerjaan professsional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu yang mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai, sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
  2. Suatu profesi menekankan kepada suatu keahlian dalam bidang tertentu yang spesifik sesuai dengan jenis profesinya, sehingga antara profesi yang satu dengan yang lainnya dapat dipisahkan secara tegas.
  3. Tingkat kemampuan dan keahlian suatu profesi didasarkan kepada latar belakang pendidikan yang dialaminya yang diakui oleh masyarakat.
  4. Suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memiliki dampak terhadap sosial kemasyarakatan
  5. Mengajar sebagai Pekerjaan Profesional
    1. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi pelajaran saja, akan tetapi merupakan pekerjaan yang bertujuan dan bersifat kompleks
    2. Mengantarkan siswa ke arah tujuan yang diinginkan.
    3. Melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang keahliannya.
    4. Mempersiapkan generasi manusia yang dapat hidup dan berperan aktif di masyarakat.
    5. Menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    6. Kompetensi Profesional Guru
      1. Kompetensi Pribadi
  • Kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.
  • Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar umat beragama.
  • Kemampuan untuk berprilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat.
  • Mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru, misalnya sopan santu  dan tata krama.
  1. Kompetensi Profesional
  • Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan.
  • Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan
  • Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkan.
  • Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran.
  • Kemapuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.
  • Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran
  • Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran.
  • Kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang.
  • Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.
  1. Kompetensi Sosial Kemasyarakatan
  • Kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional.
  • Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan.
  • Kemampuan untuk menjalin kerja sama, baik secara individual maupun secara kelompok.

4. Megoptimalkan Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran

  1. Guru sebagai Sumber Belajar

Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Sebaiknya guru memiliki bahan referensi yang lebih banyak di bandingkan dengan siswa.
  2. Guru dapat menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata siswa yang lain.
  3. Guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran.
  4. Guru sebagai Fasilitator
    1. Guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut.
    2. Guru perlu mempunyai keterampilan dalam merancang suatu media.
    3. Guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar.
    4. Sebagai fasilitator, guru dituntut agar mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa
    5. Guru sebagai Pengelola

Prinsip-prinsip belajar yang harus diperhatikan guru adalah:

  1. Segala sesuatu yang dipelajari oleh siswa, maka siswa harus mempelajarinya sendiri.
  2. Setiap siswa yang belajar memiliki kecepatan masing-masing.
  3. Seorang siswa akan belajar lebih banyak apabila setiap selesai melaksanakan tahapan kegiatan diberikan reinforcement.
  4. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti.
  5. Apabila siswivasa diberikan tanggung jawab, maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar.

Sebagai pengelola (manager) guru memiliki empat fungsi umum yaitu:

  1. Merencanakan tujuan belajar.
  2. Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.
  3. Memimpin yang meliputi memotivasi, mendorong dan menstimulasi siswa.
  4. Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau belum dalam rangka pencapaian tujuan.
  5. Guru sebagai Demonstrator
    1. Guru harus menunjukkan sikap-sikap yang terpuji.
    2. Guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa.
    3. Guru sebagai Pembimbing
      1. Guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya.
      2. Guru harus memahami dan terampil dalam merencanakan baik merencanakan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai maupun merencanakan proses pembelajaran.
    4. Gutu sebagai Motivator

Guru dituntut untuk  membangkitkan motivasi belajar siswa yaitu dengan :

  1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.
  2. Membangkitkan minat siswa.
  3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.
  4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.
  5. Berikan penilaian.
  6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa.
  7. Ciptakan persaingan dan kerjasama.
  8. Guru sebagai Evaluator
    1. Evaluasi untuk menentukan keberhasilan siswa.
    2.  Evaluasi untuk menentukan keberhasilan guru.

5Keterampilan Dasar Mengajar  Guru

  1. Keterampilan Dasar Bertanya
    1. Beberapa petunjuk teknis
  • Tunjukkan keantusiasan dan kehangatan
  • Berikan waktu secukupnya kepada siswa untuk berpikir
  • Atur lalulintas bertanya jawab
  • Hindari pertanyaan ganda
  1. Meningkatkan kualiatas pertanyaan
  • Berikan pertanyaan secara berjenjang
  • Gunakan pertanyaan-pertanyaan untuk melacak
  1. Keterampilan Dasar Memberikan Reinforcement

Ada dua jenis penguatan yang bisa diberikan oleh guru yaitu

  1. Penguatan verbal
  2. Penguatan nonverbal

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan penguatan itu dapat meningkatkan motivasi pembelajaran

  1. Kehangatan dan keantusiasan
  2. Kebermaknaan
  3. Gunakan penguatan yang bervariasi
  4. Berikan pengutan dengan segera
  5. Keterampilan Variasi StimulusVariasi pada waktu melaksanakan proses pembelajaran
  • Penggunaan variasi suara (teacher voice)
  • Pemusatan perhatian (focusting)
  • Kebisuan guru (teacher silence)
  • Mengadakan kontak pandang (eye contact)
  • Gerak guru (teacher movement)
  1. Variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran
  • Dengan menggunakan variasi media yang dapat dilihat  (visual)
  • Variasi alat atau media yang bisa didengar (auditif)
  • Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik)
  1. Variasi dalam berinteraksi

Guru perlu membangun interaksi secara penuh dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

  1. Keterampilan  Membuka dan Menutup Pelajaran

Membuka pelajaran adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengalaman belajar yang disajikan sehingga akan mudah mencapai kompetensi yang diharapkan.

Secara khusus tujuan membuka pelajaran adalah untuk :

  1. Menarik perhatian siswa, yang bisa dilakukan dengan :
  • Menyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk dirinya.
  •  Melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa, misalnya dengan menggunakan alat bantu.
  • Melakukan interaksi yang menyenangkan.
  1. Menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan:
  • Membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat.
  • Menimbulkan rasa ingin tahu.
  • Mengaitkan materi atau atau pengalaman belajar yang akan dilakukan dengan kebutuhan siswa.
  1. Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan yang dapat dilakukan dengan :
  • Mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan.
  • Menjelaskan langkah-langkah atau tahapan pembelajaran.
  • Menjelaskan target atau kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajaran berlangsung.

Menutup pelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajarai siswa serta kaitannya dengan pengalaman se belumnya.

Menutup pelajaran dapat dilakukan dengan cara:

  1. Merangkum atau membuat garis-garis besar persoalan yang baru dibahas.
  2. Mengonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok agar informasi yang telah diterima dapat membangkitkan minat untuk mempelajari lebih lanjut.
  3. Mengorganisasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk membentuk pemahaman baru tentang materi yang telah dipelajarinya.
  4. Memberikan tindak lanjut serta saran-saran untuk memperluas wawasan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah dibahas.
  5. Keterampilan Mengelola Kelas

Penelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.

Beberapa jenis perilaku yang dapat mengganggu iklim belajar mengajar yaitu:

  1. Tidak ada perhatian

Tidak ada perhatian yang ditunjukkan oleh siswa bersumber dari kurangnya motivasi belajar siswa yang dapat di dorong oleh:

  • Siswa menganggap tidak penting terhadap materi pelajaran yang sedang dibahas.
  • Siswa merasa telah memiliki kemampuan dan pemahaman akan materi pelajaran yang sedang dibahas.
  • Siswa merasa bosan atau tidak sesuai dengan pola mengajar yang diterapkan guru.
  • Siswa memandangguru kurang menguasai bahan pelajaran yang sedang disajikan.
  1. Perilaku mengganggu

Perilaku mengganggu bisa dilakukan oleh siswa secara individual atau oleh kelompok siswa.

Perilaku mengganggu dapat muncul dari beberapa faktor diantaranya:

  • Kondisi psikologi siswa.
  • Siswa pernah mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan dari guru.

Untuk menghindari perilaku-perilaku yang dapat mengganggu, maka dalam pengelolaan kelas dapat dilakukan teknik-teknik berikut ini:

  • Penciptaan kondisi belajar yang optimal.
  • Menunjukkan sikap tanggap.

Untuk memberikan kesan tanggap ini bisa dilakukan dengan cara:

  • Memberikan komentar baik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajari maupun terhadap perilaku siswa.
  • Menjaga kontak mata artinya setiap saat guru perlu memerhatikan siswa melalui pandangan secara terus-menerus.
  • Gerak mendekat artinya guru perlu memberi perhatian khusus baik kepada individu ma upun kelompok.
  1. Memusatkan perhatian.

Pemusatan perhatian dapat dilakukan dengan :

  • Memberikan ilustrasi-ilustrasi secara visual.
  • Memberikan komentar secara verbal melalui kalimat-kalimat yang segar tanpa keluar dari konteks materi pelajaran yang sedang dibahas.
  1. Memberikan petunjuk dan tujuan yang jelas.

Siswa akan belajar dengan perhatian penuh manakala memahami tujuan yang harus dicapai serta mengerti apa yang harus dilakukan.

Memberi teguran dan penguatan

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menegur diantaranya:

  • Menegur diarahkan kepada siswa yang benar-benar mengganggu kondisi kelas dengan perilaku yang menyimpang.
  • Menegur dilakukan secara verbal dengan menghindari peringatan-peringatan yang kasar atau bertendensi menghina atau mengejek.

6.  Sertifikasi Guru

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional. Seorang guru atau pendidik profesional harus memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1) atau diploma empat (D4), menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sertifikasi guru merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dan kesejahteraan guru, serta berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran. Dengan terlaksananya sertifikasi guru, diharapkan akan berdampak pada meningkatnya mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Sasaran sertifikasi guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio tahun 2008 ditetapkan oleh pemerintah sejumlah 200.000 guru, meliputi PNS dan bukan PNS pada satuan pendidikan negeri atau swasta yang meliputi TK, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB.

Persyaratan peserta sertifikasi guru melalui penilaian portofolio sebagai berikut.

  1. Memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang terakreditasi.
  2. Mengajar di sekolah umum di bawah binaan Departemen Pendidikan Nasional.
  3. Guru PNS yang mengajar pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau guru yang diperbantukan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
  4. Guru bukan PNS yang berstatus guru tetap yayasan (GTY) atau guru yang diangkat oleh Pemda yang mengajar pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah.
  5. Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 5 tahun pada satu sekolah atau sekolah yang berbeda dalam yayasan yang sama;
  6. Memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Persyaratan dan prioritas penentuan calon peserta sertifikasi guru baik untuk guru PNS maupun bukan PNS berlaku sama, kecuali pangkat dan golongan.

Portofolio guru terdiri atas 10 komponen, yaitu: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Sepuluh komponen portofolio merupakan refleksi dari empat kompetensi guru. Setiap komponen portofolio dapat memberikan gambaran satu atau lebih kompetensi guru peserta sertifikasi, dan secara akumulatif dari sebagian atau keseluruhan komponen portofolio merefleksikan keempat kompetensi guru yang bersangkutan. Pemetaan kesepuluh komponen portofolio dalam konteks kompetensi guru disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Pemetaan Komponen Portofolio dalam konteks Kompetensi Guru

No.

KOMPONEN PORTOFOLIO

(Sesuai Permendiknas No. 18 Tahun 2007)

KOMPETENSI GURU

Pedg

Kepri

Sos

Profe

Kualifikasi Akademik

ü

ü

Pendidikan dan Pelatihan

ü

ü

Pengalaman Mengajar

ü

ü

ü

ü

Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran

ü

ü

Penilaian dari Atasan dan Pengawas

ü

ü

Prestasi Akademik

ü

ü

ü

Karya Pengembangan Profesi

ü

ü

Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah

ü

ü

Pengalaman Menjadi Pengurus Organisasi di Bidang Kependidikan dan Sosial

ü

ü

Penghargaan yang Relevan dengan BidangPendidikan

ü

ü

ü

Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/ prestasi yang dicapai selama menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran. Dokumen portofolio guru berisi data dan informasi catatan pengalaman guru dalam upaya meningkatkan profesionalitasnya dalam proses belajar mengajar. Dokumen portofolio guru dinilai oleh 2 (dua) asesor berpedoman pada buku Panduan Penyusunan Portofolio (Buku 3). Asesor yang diberi tugas untuk menilai portofolio ditetapkan oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru berdasarkan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Ditjen Dikti. Kepada asesor yang dinyatakan lulus seleksi diberikan Nomor Induk Asesor (NIA). Berdasarkan hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi dikelompokkan ke dalam 6 (enam) kategori, yaitu:

Lulus Portofolio (L)

Peserta yang dinyatakan lulus penilaian portofolio apabila mendapatkan skor penilaian portofolio sama dengan atau di atas skor minimal kelulusan  (850).

Melengkapi Administrasi (MA)

Peserta yang harus melengkapi administrasi apabila skor hasil penilaian portofolionya telah mencapai batas kelulusan, tetapi masih ada kekurangan administrasi. Misalnya ijazah belum dilegalisasi, pernyataan peserta pada portofolio sudah ditandatangani tanpa dibubuhi materai, dan sebagainya. Peserta harus melengkapi kekurangan tersebut kemudian dokumen dikirimkan lagi ke LPTK.

Melengkapi Substansi (MS)

Peserta dengan hasil penilaian portofolio belum mencapai skor minimal kelulusan, yaitu 841-849 harus memenuhi skor minimal dengan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan profesi pendidik untuk melengkapi kekurangan portofolio tersebut.

Mengikuti PLPG (MPLPG)

Peserta yang memiliki skor penilaian portofolio belum mencapai skor minimal kelulusan harus mengikuti PLPG yang mencakup empat kompetensi guru dan diakhiri dengan uji kompetensi. Peserta yang lulus uji kompetensi memperoleh Sertifikat Pendidik. Peserta diberi kesempatan ujian ulang dua kali (untuk materi yang belum lulus). Peserta yang tidak lulus pada ujian ulang kedua dikembalikan ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Jadwal PLPG ditetapkan oleh LPTK.

Klarifikasi (K)

Peserta yang melampirkan sebagian atau keseluruhan dokumen portofolio yang diragukan keaslian/kebenar-nya, maka diberikan kategori klarifikasi. Jika peserta terbukti melakukan pemalsuan dokumen, maka peserta didiskualifikasi.

Diskualifikasi (D)

Peserta sertifikasi akan didiskualifikasi apabila: tidak sesuai dengan kriteria penetapan peserta; atau terbukti secara sengaja melakukan usaha penyuapan. Dokumen peserta akan dikembalikan ke Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Kuota peserta yang didiskualifikasi tidak dapat digantikan oleh peserta lain.

E.  KEGIATAN BELAJAR –MENGAJAR YANG EFEKTIFGuru harus menyadari bahwa fakta dalam proses KBM di kelas masih ada murid yang belum siap walaupun guru sudah memulai.Tugas guru dalam  KBM adalah menempatkan sesuatu secara efektif dengan melihat masalah yang kontekstual.Guru harus menyadari bahwa proses KBM adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan suatu proses secara sistematis dan berkesinambungan.

    1. Proses KBM disusun sesuai prinsip belajar mengajar. Guru membangun dan pemahaman, mendorong siswa menggunakan otoritas haknya dalam membangun gagasan. Tegasnya guru bertanggung jawab mendorong prakarsa, memotivasi, tanggung jawab siswa untuk belajar.
    2. Pada umumnya guru tanpa sadar mengartikan hakikat belajar adalah penerimaan informasi dan guru hanya transfer pengetahuan.
    3. Bagaimana mengelola KBM yang efektif
    1. Mengelola tempat belajar
    2. Penyediaan umpan balik yang bermakana
    3. Ada program pemikiran yang mendorong siswa melakukan unjuk kerja.

6.    Pengelolaan isi (Materi Pembelajaran )

Materi pelajaran akan memberi warna dan bentuk dari kegiatan pembelajaran. Materi pelajaran yang komprehensif, terorganisasi secara sistematis dan dideskripsikan dengan jelas akan berpengaruh juga terhadap intensitas proses pembelajaran.

Materi pelajaran dalam sistem pembelajaran berada dalam silabus, rencana pembelajaran, dan buku sumber. Maka guru hendaknya dapat memilih dan mengorganisasikan materi pelajaran agar proses pembelajaran dapat berlangsung intensif.

  • Menyiapkan silabus nasional dan lokal

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Prinsip Pengembangan Silabus:

– Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

-Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik

-Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam rangka mencapai kompetensi

-Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

-Memadai

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

-Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

-Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

-Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

  • Pengelolaan pembelajaran tematik (kelas I-III) SD, melibatkan berbagai mata pelajaran.

7. Bagaimana mengaktifkan siswa

Jika siswa belumterbiasa efektifsiswa dapat dibuat kelompok

  1. Kelompok kecil

–          Tugasnya dibatasi waktunya

–          Perintah jelas

–          Menerangkan jelas

–          Penilaian bersifat informal

  1. Kelompok besar

–          Tugas ditambah lebih banyak

–          Tugas dibagi-bagi

–          Beberapa tugas dapat bersifat siswa memberi pendapat

–          Sumber belajar dipilih siswa

–          Penilaian bersama

  1. F.   GURU YANG BAIK HARUS MEMAHAMI DAN MELAKSANAKAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

Sistem  pembelajaran sangat tergantung dengan tujuan pembelajaran. Mau dibawa kemana siswa, apa yang harus dimiliiki siswa, semua tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.Tujuan pendidikan dari yang bersifat umum sampai kepada tujuan khusus itu dapat diklasifikasi menjadi empat yaitu:

1)   Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)

TPN adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan.

Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai Pancasila dirumuskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, yang merumuskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2)   Tujuan Institusional

Tujuan Institusional merupakan tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Pasal 26 di jelaskan

(1) Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
(2) Standar kompentensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
(3) Standar kompentensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
(4) Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, ketrampilan, kemandirian dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

3)   Tujuan Kurikuler

Tujuan kuriluler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Pasal 6 di jelaskan

Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas :
a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. Kelompok mata pelajaran estetika;
e. Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

4)   Tujuan Pembelajaran/Instruksional

Tujuan intruksional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat pengajaran yang pencapaiannya terlihat  pada kemampuan peserta didik setelah  mereka menyelesaikan pengalaman belajarnya. Tujuan intruksional adalah   tujuan yang paling langsung dihadapkan kepada peserta pelatihan sebab harus dapat dicapai setelah peserta menempuh proses pembelajaran. Untuk itu tujuan intruksional dirumuskan sebagai kemampuan–kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh  peserta pembelajaran. Tujuan instruksional dibedakan menjadi dua yaitu tujuan intruksional umum (TIU) dan tujuan intruksiona khusus (TIK)

  1. Tujuan Intruksional Umum (TIU)

Tujuan Intruksional Umum merupakan langkah pertama dalam penyusunan desain Intruksional. TIU merupakan pernyataan umum yang kerap kali masih memberikan kemungkinan dengan interpretasi terutama tentang prestasi macam apa yang diharapan dari sasaran belajar melalui  proses belajar tertentu. Sehingga  Tujuan Intruksional Umum adalah suatu pernyataan yang menjelaskan mengenai apakah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah mereka selesai mengikuti suatu pengajaran

  1. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)

Untuk  lebih mengoperasikan dan menspesifikkan  tujuan intruksioal, maka biasanya dijabarkan lagi menjadi tujuan intruksional khusus,agar lebih memperlihatkan rumusan perubahan perilaku sasaran didik secara terperinci, yang meliputi ranah kognitif,afektif,dan psikomoorik. Dalam merumuskan tujuan intruksional khusus harus diusahakan menggunakan kata-kata yang menuntut sasaran belajar berbuat sesuatu ya menampakkan hasil belajarnya dan sekaligus menunjukkan jenis perilaku  yang diharapkan.

Implementasi Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk model dan teknik penilaian yang dilaksanakan di kelas. Di dalam keputusan Mendiknas nomor 012/U/2002 tanggal 28 Januari 2002: tentang Jenis dan Bentuk Penilaian terutama BAB III Pasal 3 dinyatakan bahwa: (1) Jenis penilaian di sekolah terdiri atas Penilaian Kelas dan Ujian, (2) Selain jenis penilaian sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 dapat dilakukan penilaian Tes Kemampuan Dasar dan Penilaian Mutu Pendidikan, (3) Penilaian dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan atau praktik, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja peserta didik atau yang disebut portofolio, dan (4) Penilaian Kelas dan Ujian meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Masalah penilaian ini dipertegas lagi dengan keputusan Mendiknas nomor 047/U/2002 tanggal 4 April 2002 tentang Ujian Akhir yang dinyatakan bahwa pelaksanaan kurikulum mengharuskan semua guru di sekolah untuk menerapkan sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Dengan sistem ini diharapkan penilaian dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif saja akan tetapi juga mencakup ranah psikomotorik dan afektif.

Penilaian kelas adalah penilaian yang dilakukan secara terpadu dengan proses pembelajaran, menggunakan multimetode, menyeluruh, berkesinambungan sehingga mampu mendorong peserta didik untuk lebih berprestasi. Penilaian kelas disebut juga penilaian otentik, penilaian alternatif, atau penilaian kinerja yang dilakukan secara menyeluruh yakni menyangkut seluruh ranah kemampuan dan berkesinambungan sehingga mampu mendorong peserta didik untuk lebih berprestasi. Pengertian penilaian alternatif adalah penilaian non-tradisional dan penilaian yang tidak sekedar mengandalkan paper and pencil test.

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s