ORANG YANG MENDUSTAKAN AGAMA

Allah berfirman: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”,dan celakalah orang yang sholat yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan (QS. Al-Ma’un :1-5).
Menafsirkan ayat ini Sayyid Quthb menegaskan: “Bila keimanan seseorang benar-benar meresap kuat dalam dada, ia tidak akan mengherdik anak yatim, dan tidak akan membiarkan orang-orang miskin kelaparan. Masalah keimanan bukan semata semboyan dan ucapan, melainkan perubahan dalam hati yang melahirkan kebaikan dalam hidup bersama dengan manusia yang lain, terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Allah tidak ingin dari hambaNya semata kalimat yang diucapkan, melainkan harus diterjemahkan dalam perbuatan nyata. Bila tidak, keimanan itu menjadi sekedar busa, tidak bermakna dan tidak berpengaruh apa-apa” (Fi dzilalil Qur’an, vol.6, h.3985).

Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang miskin, dan selalu berwasiat kepada sahabat-sahabatnya untuk senantiasa mencintai mereka yang sengsara secara ekonomi. Abu Dzar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW. berwasiat kepadanya tujuh perkara tidak boleh ia meninggalkannya, diantaranya: mencintai orang miskin dan selalu mendekati mereka (Majamauzzawaid: vol.10, h.263). Ibn Majah dalam kumpulan haditsnya menyebutkan bab khusus mengenai keutamaan orang-orang miskin: Bab fadlul faqr (keutamaan kefakiran), Bab manzilatul fuqara’ (derajat orang-orang miskin), dan Bab Mujalasatul fuqara (bergaul dengan orang-orang miskin). Diantara hadits yang disebutkan: Rasulullah SAW. bersabda: “ Orang-orang miskin dari golongan mukimin akan masuk surga lebih dahulu, sebelum orang-orang kaya dari mereka, dengan tenggang waktu setengah hari, sama dengan lima ratus tahun.” (Sunnan Ibn Majah: 4122).

Ibn Umar meriwayatkan: suatu hari kaum muhajirin dari sahabat-sahabat Rasulullah yang miskin menceritakan enaknya sahabat-sahabat mereka yang kaya, di mana mereka punya kesempatan berbuat pahala lebih banyak dengan hartanya. Rasulullah SAW langsung bersabda: “Wahai orang-orang yang msikin, aku akan memberikan khabar gembira kepada kalian, bahwa orang mukmin yang miskin akan masuk surga lebih dahulu dari pada orang mukmin yang kaya, dengan tenggang waktu setengah hari, itu sama dengan lima ratus tahun. Bukankah Allah berfirman: Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (QS. 22:47). (Ibid: 4124).

Kehidupan Rasulullah sendiri mencerminkan kesederhanaan. Diantara doa-doanya: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah dengan orang-orang miskin” (Ibid: 4126). Isterinya Siti Aisyah ra. menceritakan bahwa pernah selama satu bulan di rumahnya tidak pernah mengepul asap. Ketika ditanya ia menjawab: kami hanya minum air dan makan kurma. (Ibid: 4145). Kapada sahabat-sahabatnya Rasulullah SAW. selalu menceritakan bahwa diri dan keluarganya tidak pernah mempunyai harta sampai satu sha’(3751 gram) biji-bijian atau kurma. Dalam riwayat lain disebutkan: hanya mempunyai satu mud (938 gram) makanan (Ibid: 4147-8).

Bila ternyata mencintai orang-orang msikin bukan semata kewajiban kemanusiaan melainkan lebih dari itu adalah bukti keimanan, mengapa kita masih sering menyakiskan seorang bayi ditahan di rumah sakit karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya, seorang ibu sambil merangkul anak bayinya ditolak dari pintu ke pintu rumah sakit karena tidak punya biaya, dan seorang bayi terpaksa akhirnya harus menghembuskan nyawa karena tidak ada rumah sakit yang menerimanya . Di manakah keimanan kita selama ini? Pantaskah kita dengan kenyataan ini menyebut diri orang-orang mukmin?

Parameter Fakir dan Miskin

Para ulama berbeda pandangan tentang parameter fakir dan miskin serta perbedaan di antara keduanya; apakah Fakir dan Miskin merupakan satu bentuk atau dua bentuk yang berbeda. Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah), Ibn Al-Qashim (sahabat Malik) mengatakan FM adalah hal yang satu. (Lihat Hasyiyah Al-Dasuqiy I/492, Fiqh Zakat Qardhawiy II/544).

Jumhur mengatakan: Fakir dan Miskin adalah dua hal akan tetapi satu jenis, yaitu orang-orang yang lemah lagi papa, adapun yang mengatakan Fakr dan Miskin adalah satu hal, maka ini tidak tepat. Sebab Allah menggandengkan kata fakir dengan kata miskin merupakan bukti adanya perbedaan diantara keduanya. Yang menguatkan hal ini, adalah sabda Rasulullah: Sesungguhnya Allah memilahnya (zakat) menjadi 8 bagian. Maka, jika kita katakan fakir dan miskin adalah hal yang satu, maka tentu hanya 7 bagian bukan delapan, walaupun para ulama berbeda pandangan tentang batasan makna dari masing-masing fakir atau miskin, akan tetapi mereka sepakat bahwa keduanya merupakan satu konteks.

Sebagian ulama mengatakan: Fakir adalah orang yang lemah dan papa, akan tetapi ia menghalangi dirinya dari meminta-minta. Dan miskin adalah orang yang lemah dan papa dan meminta-minta. Ini adalah ungkapannya Ibn Abbas, Mujahid, Hasan Al-Bashri.

Sebagian ulama yang lain mengatakan: Fakir adalah orang yang lemah dan papa akan tetapi menderita sakit yang menahun, adapun miskin adalah orang yang secara ekonomi lemah dan papa akan tetapi badannya sehat. Ini adalah ungkapannya Qatadah ibn Da’amah Al-bashri.

Sebagian ulama lainnya mengatakan: Fuqara adalah orang-orang fakir dari kalangan para pendatang/urban. Adapun miskin adalah orang yang memang lemah ekonomi akan tetapi bukan pendatang, melainkan pribumi. Ini adalah ungkapan Ad-Dhahak ibn Muzahim dan Sa’id ibn Jubair.

Sebagian ulama lain mengatakan: Miskin adalah orang yang pendapatan/pencahariannya lemah. Sebagian lain mengatakan: Fakir itu lafadz untuk orang muslimin yang lemah ekonominya, sedangkan miskin adalah lafadz untuk ahli kitab (Yahudi dan Kristen).

Ikrimah ibn Abdullah Al-Madaniy Al-Hasyimiy, maula Ibn Abbas, Ibn Jarir, mengatakan: Yang dimaksud dengan fakir adalah orang yang lemah ekonominya tapi tidak meminta-minta, sedangkan miskin adalah orang yang lemah ekonominya yang juga meminta-minta. Imam ibn Jarir merajihkan pendapat ini karena asal makna kata maskanah beredar pada hal tersebut. Allah berfirman tentang Yahudi: (Ditimpakan kepada mereka kenistaan dan maskanah/kehinaan#QS. Al-Baqarah: 61). (HR. Muslim & Muslim) (Lihat Tafsir At-Thabariy 14/305-309, Fiqh Zakat Qardhawiy 2/545, Tafsir Ayatil Ahkam Manna’ Al-Qathan 3/352). Juga dalam hadits: “Miskin bukanlah orang yang meminta-minta, lalu diberi 1 atau 2 kurma, 1 atau 2 suapan makanan, akan tetapi miskin adalah orang yang menahan diri dari meminta-minta, padahal ia tidak berpunya. Bacalah –jika kalian mau– ayat Allah: (Mereka tiada meminta-minta kepada manusia# Q.S. Al-Baqarah: 273) (Lihat Tharhu Al-Tastrib fii Syarhi Al-Taqrib 4/32).

Para ulama mengatakan: Makna hadits bahwasannya miskin yang sangat (kemiskinan absolut) adalah yang tidak meminta-minta kepada manusia dan tidak menampakkan lemahnya keadaan ekonominya. Dan ini tidak berarti bahwa ia tidak meminta-minta, melainkan keadaan ekonominya tidak lemah sama sekali. Para ulama berdalil dengan keumuman penggunaan lafadz maskanah terhadap orang yang meminta-minta, dalam sebuah hadits: Berilah orang miskin yang memintamu walaupun dengan dhulf muharraq (HR. Ahmad, Nasa’i, dengan sanad hasan). Lihat Al-Jami’ Al-Shaghir 2/24.

Para ulama sepakat bahwasannya peminta-minta yang tiada berpunya adalah orang miskin. Dan ini menunjukkan bahwasannya lafadz miskin adalah kata yang mencakup ketiadaan harta dan ketiadaan pemberian dari masyarakat, karena masyarakat menilai orang tersebut tidak kekurangan dikarenakan ia tidak meminta-minta. (Lihat Tharhu Al-Tatsrib 4/3233. Oleh karena itu, Imam Al-Khaththabi menjelaskan dalam “Ma’alim Al-Sunan”-nya, “Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwasannya miskin menurut masyarakat secara kasat-mata adalah yang merekasebut dengan peminta-minta, dan Rasulullah menafikan kata miskin darinya karena dengan ia meminta-minta akan terpenuhi kebutuhannya. Dan terkadang apa yang ia terima bertambah, maka bertambah pula kebutuhannya. Maka, hilanglah dari orang tersebut gelar miskin. Dan senantiasanya digunakannya kata “tidak berpunya dan melarat” adalah kepada orang yang tidak meminta-minta dan tidak ada perhatian dari masyarakat yang mau memberi kepadanya. (Ma’alim Al-Sunan: 2/232).

Para ulama berbeda pandangan tentang mana yang lebih parah kondisinya: fakir ataukah miskin? Para ulama syafi’iyah dan hanabilah mengatakan: Fakir lebih parah kondisinya daripada miskin. Yaitu orang yang tidak punya harta dan tidak punya pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhannya, sebagaimana sudah kami kemukakan di awal. Sedangkan miskin, adalah orang yang masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya akan tetapi tidak sempurna. Oleh karena itu, fakir lebih parah kondisinya daripada miskin.

Sebagian orang mengatakan: Tidak ada perbedaan antara fakir dengan miskin. Iniadalah ungkapannya Ibn Qashim, salah seorang sahabat Imam Malik. Demikian juga ungkapan Imam Abu Yusuf. Mereka mengatakan: yang demikian karena kehinaan itu sifat melekat yang ada para fakir.

Hujjah Imam Syafi’i dan Imam Ahmad adalah sebagai berikut:

1. Allah memulai menyebut kata fuqara. Dan penyebutan ini di awal tidak lain karena mendahulukan yang termendesak dan baru yang berikutnya. Dan Allah hanya menyebutkan zakat untuk 8 ashnah tersebut tidak lain untuk memenuhi kebutuhan mereka dan mendapatkan kebaikan mereka. Dan ini menunjukkan bahwa ashnaf yang pertama kali disebut merupakan yang terparah, paling membutuhkan.

2. Kata fakir pada asalnya, secara bahasa adalah tulang belakang yang tercerabut dari punggung. Maka, fakir bermakna terhalang dari beraktivitas dan bekerja.

3. Rasulullah pernah berdoa berlindung kepada Allah dari kefakiran, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah. Beliau berdoa: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam kemiskinan dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin. (HR. Tirmidzi dari hadits Anas). Seandainya miskin lebih parah daripada fakir, maka untuk apa beliau berlindung kepada Allah dari kefakiran dan meminta kemiskinan. Dari hal ini, maka jelaslah bahwa miskin masih lebih bagus daripada fakir.

4. Ayat Allah yang berbunyi: Adapun kapal itu, maka itu adalah milik orang-orang miskin, mereka nelayan (Al-Kahf: 70). Allah menggelaari mereka yang punya kapal dan mencari ikan di laut dengan kata miskin. Tidak pernah disebutkan dalam Al-Qur’an kalau orang fakir itu punya sesuatu.. Oleh karena itu, benarlah bahwa fakir lebih parah kondisinya daripada miskin. (Lihat tafsir Khazin 2/234, Qurthubi: 8/169)

5. Ayat Allah yang berbunyi: Untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari rumah-rumah dan harta-harta mereka …. (Al-Hasyr: 8). Maka, benarlah bahwa fakir adalah tidak punya harta sama sekali, karena Allah mengabarkan bahwa mereka disuri dari rumah dan harta mereka serta dilarang dari membawa sebagian harta mereka. (Lihat: Al-Muhalla: 6/212).

Dua madzhab, malikiyah dan hanafiyah, menyatakan miskin lebih parah kondisinya daripada fakir. Fakir, sebagaimana yang disebutkan oleh madzhab hanafiyah, adalah orang yang punya kelebihan harta kurang dari nishab zakat, atau memiliki barang, peralatan/perabot, pakaian, buku dan yang lainnya yang nilainya satu nishab atau lebih, akan tetapi digunakannya untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dan orang miskin, menurut hanafiyah, adalah orang yang tidak punya apa-apa. (Lihat Tanwirul Abshar dan Syarh Al-Mukhtar, Hasyiyah ibn Abidin Raddul Muhtar 2/339, Syarh Fath Al-Qadir 2/15, Tafsir Qurthubi 8/169-171.

Madzhab malikiyah dan lainnya menyatakan kata fakir dan miskin, secara makna, kedua-duanya bermakna tidak adanya kecukupan. Dan kecukupan yang dimaksud oleh malikiyah dan hanafiyah adalah cukup biaya hidup selama 1 tahun penuh untuk: pangan, sandang, rumah, dan seluruh kebutuhan dasar manusia, tanpa berlebihan atau berhemat-hemat. (Lihat Tafsir Ayat Al-Ahkam, Manna’ Al-Qaththan 3/353-354).

Hujjah madzhab malikiyah dan hanafiyah adalah sebagai berikut:

1. Nukilan Imam Al-Ashma’iy dan Abu ‘Amr ibn Al-Alla’ dan para ulama lughah yang lainnya, menyatakan miskin lebih parah kondisinya daripada fakir.

2. Firman Allah: Atau orang miskin yang sangat fakir (Al-Balad: 16) maknanya adalah melumuri kulitnya dengan tanah untuk menutup aurat tubuhnya dan mengganjal perutnya dengan tanah untuk mengurangi rasa laparnya. Ini menunjukkan kondisi terendah dan terparah, sedangkan kata fakir tidak diterangkan demikian.

3. Orang miskin adalah orang yang dibuat tidak berdaya oleh kefakiran dan yang tinggal disembarang tempat karena tidak punya rumah. Dan ini menunjukkan kondisi kejelekan yang terparah.

4. Allah menjadikan kafarat itu untuk orang-orang miskin. Seandainya miskin bukan strata ekonomi terendah dibandingkan fakir, tentu Allah tidak menjadikan kafarat untuknya.

5. Ucapan pepatah: Adapun fakir adalah yang memiliki halubah, bersama keluarga lagi tidak ditinggalkan tuannya. Maksudnya fakir itu memiliki susu bersama keluarganya dan tidak barang lainnya, maka dinamakan fakir walaupun memiliki susu. (Lihat Tafsir Al-Khazin 2/234, Mukhtar Al-Qamus 287).

Sebagian ulama merajihkan pandangan yang pertama (Syafi’iyah dan Hanabilah –pent), yaitu miskin masih lebih baik daripada fakir, berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Rasulullah bersabda: Orang miskin bukanlah orang yang pergi meminta-minta, lalu orang memberinya 1 atau dua butir kurma, 1 atau 2 suap makanan, akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya barang untuk mencukupi kebutuhannya dan tidak ada orang yang perhatian kepadanya lalu memberinya shadaqah, dan ia pun tidak pergi meminta-minta. (HR. Bukhari dan Muslim) Lihat Nailul Authar 4/178. Dan ini yang tepat (menurut Al-Jarullah), insya Allah. (Diterjemahkan oleh Abu Muhammad ibn Shadiq)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s